Buka konten ini

AUSTRALIA (BP) – Upaya Australia untuk menapakkan kaki di jalur peluncuran antariksa dunia mengalami ujian pertama. Roket orbit buatan dalam negeri, Eris, meledak hanya 14 detik setelah tinggal landas dari pelabuhan antariksa Bowen, Queensland utara, Rabu (30/7) pagi.
Roket buatan Gilmour Space, perusahaan berbasis di Gold Coast, itu meluncur ke udara dalam kepulan asap putih. Namun tak lama setelah mengudara, pesawat luar angkasa tersebut kehilangan dorongan, jatuh, lalu meledak di udara.
Momen dramatis itu disaksikan langsung oleh ratusan penggemar antariksa dari perbukitan sekitar lokasi peluncuran. Salah satunya adalah YouTuber ternama, Josh Keegan, yang dikenal dengan nama Aussienaut. Ia mengabadikan peluncuran melalui siaran langsung di kanalnya.
“Oke, kita mulai, kita mulai, ini dia!” seru Keegan penuh antusias setelah menanti dua hari di lokasi. Namun, kegembiraannya seketika sirna. “Sudah, sudah selesai,” katanya kecewa. “Oh tidak, roketnya gagal. Tidak ada dorongan yang cukup untuk membuatnya tetap melayang.”
Keegan kemudian menutup siaran dengan nada sedih. “Saya rasa, itu akhir dari roket Eris. Hanya tersisa awan asap, dan itu akhir ceritanya.”
Meski gagal menembus orbit, peluncuran ini tetap dianggap tonggak penting bagi industri luar angkasa Australia yang masih merintis. Dalam pernyataan resminya, Gilmour Space menyebut penerbangan singkat Eris selama 14 detik sebagai “langkah besar menuju kemandirian antariksa.”
“Untuk uji terbang perdana, terutama setelah 18 bulan tertunda menunggu izin akhir, ini adalah hasil yang menggembirakan,” tulis pihak perusahaan. “Yang terpenting, seluruh tim selamat dan semakin termotivasi untuk Uji Terbang 2,” sambungnya.
CEO Gilmour Space, Adam Gilmour, pun mengungkapkan kepuasannya meski peluncuran belum sempurna. “Roket berhasil lepas landas dari landasan. Saya senang,” tulisnya di media sosial. “Tentu saja saya mengharapkan waktu terbang yang lebih lama, tapi saya tetap puas dengan hasil ini.”
Roket setinggi 23 meter dan berbobot 30 ton itu dilengkapi beragam sensor untuk merekam data teknis selama penerbangan. Data inilah yang akan dianalisis oleh Gilmour Space guna menyempurnakan peluncuran berikutnya.
Yayasan One Giant Leap Australia, lembaga yang fokus pada pendidikan luar angkasa, juga memberikan dukungan. “Satu-satunya cara untuk belajar adalah dengan gagal dan terus maju,” tulis mereka lewat media sosial. “Hari ini kita tahu lebih banyak dibanding kemarin.”
Gilmour Space sejatinya sudah bersiap meluncurkan Eris sejak Selasa. Namun cuaca buruk dan angin kencang membuat jadwal harus diundur. Peluncuran Mei lalu juga gagal.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah Australia belum lama ini mengucurkan dana sebesar 5 juta dolar Australia untuk mendanai pengembangan mesin roket cair generasi terbaru yang akan digunakan dalam proyek Eris berikutnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO