Buka konten ini

Kuliner klasik berbahan lontong dan usus sapi ini jadi menu pembuka pagi favorit warga Tanjungpinang sejak puluhan tahun lalu. Tak hanya menyimpan cita rasa kelezatan, tetapi juga kenangan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
DI tengah zaman modern dan di tengah menjamurnya makanan atau menu khusus sarapan pagi, salah satu kuliner legendaris di Tanjungpinang yaitu lontong usus, tetap eksis dan digemari. Kuliner klasik lontong usus yang telah ada sejak 1975 di Tanjungpinang ini, tetap menjadi pilihan dan menu favorit masyarakat sebagai makanan pembuka pada pagi hari.
Lebih kurang lima dekade, kuliner khas berbahan lontong dan usus buatan tangan Nuraini (Almarhumah), kini masih eksis dan tetap me-nyimpan cita rasa dan cerita dari generasi ke generasi. Aroma kuah santan yang gurih berpadu dengan wangi rempah, membuat siapa saja akan tergiur untuk merasakan lezatnya lontong usus. Meski tampilannya sederhana, makanan pembuka pagi ini menyimpan sejuta rasa dan cita rasa yang tidak akan lekang oleh waktu.
Lontong usus pertama kali dipopulerkan oleh Almarhumah Nuraini sejak awal tahun 1975. Berawal dari dapur rumahnya, Almarhumah membawa dagangannya ke Pasar Baru Jalan Pelantar II Tanjungpinang.
Lambat laun, kelezatan dan cita rasa lontong usus buatan Almarhumah dikenal oleh masyarakat luas. Kini, usaha itu diteruskan oleh generasi kedua, yang tetap menjaga resep dan cara masak seperti aslinya.
“Awalnya, ibu kami berjualan lontong usus di Pasar Baru tahun 1975, kemudian pindah ke Jalan Pasar Ikan. Kini menetap di pertokoan depan SMA Negeri 2 Jalan Basuki Rahmat Tanjungpinang,” kata Dewi, 50, anak dari Almarhumah Nuraini.
Dewi menjelaskan, lontong usus bukan sekadar sarapan. Makanan ini terdiri dari potongan lontong yang disiram kuah kuning santan kental berisi nangka, kacang panjang dan buncis. Lengkap dengan usus sapi berisi telur yang dimasak empuk dan berempah bumbu.
Untuk menambah cita rasa, lontong usus juga dipadu dengan kerupuk merah atau jingga sebagai pelengkap sehingga menjadikannya menu yang nikmat, kaya akan rasa, lezat dan tentunya mengenyangkan.
“Kami juga menyediakan menu nasi dan lontong rendang, lontong ayam gulai kampung, lontong tunjang dan lontong telur,” jelasnya.
Saat ini, Dewi bersama suaminya Rizal, masih mengolah lontong usus memakai resep lama, bumbu dan rempah-rempah yang digiling sendiri. Usus direbus lama agar empuk dan bersih.
“Santannya juga dari kelapa parut, bukan santan instan,” ungkap Dewi.
Dewi berujar, sedari kecil, ia menyaksikan ibunya berjualan lontong usus selepas salat subuh. Ibunya telah menyiapkan dan mengolah bahan lontong usus, rendang, tunjang, ayam gulai kampung serta telur, sejak subuh hari.
“Jadi kami juga memulai menyiapkan dan mengolah bahan dan memasak lontong sejak subuh hari,” ujarnya.
Untuk harga menu lontong berbagai pilihan rasa, Dewi menjualnya dengan harga yang bervariasi, tergantung pesanan atau sesuai pilihan pelanggan.
“Kami jual mulai harga Rp13 ribu hingga Rp20 ribu. Jadi tinggal pilih sesuai selera. Pelanggan mau lontong usus, rendang, ayam gulai atau telur, kami buatkan,” katanya.
Sejak tahun 1975 hingga kini, lontong usus tidak pernah sepi, terutama saat pagi menjelang. Para pelanggan datang dari berbagai penjuru kota, bahkan ada yang sengaja membawa pulang ke luar kota sebagai oleh-oleh.
“Alhamdulillah, banyak pelanggan tetap yang sudah menyantap lontong usus ini sejak kecil. Sekarang mereka mengajak anak dan cucu sarapan di sini,” ucap Dewi bersyukur.
Selain nikmat disantap, lontong usus juga menyimpan memori dan kenangan pada setiap pelanggan setia yang menyantapnya. Lontong usus juga menjadi saksi bisu pergerakan ekonomi di Tanjungpinang sejak 1975 hingga zaman modern.
Makanan pembuka pagi hari ini juga menjadi salah satu simbol kekuatatan usaha lokal yang mampu bertahan puluhan tahun, tanpa harus menjadi bagian dari restoran besar atau tempat kuliner lainnya.
“Makanan ini sederhana, tapi penuh kenangan. Dahulu waktu tinggal di Jalan Kemboja, kami sering makan sama bapak kami waktu kecil. Sekarang kami ajak anak kami. Rasanya tetap sama,” kenang Inaz (47), seorang pengusaha lokal di pasar Pelantar II Tanjungpinang yang menjadi pelanggan setia.
Inaz mengaku, di tengah maraknya ragam sarapan instan dan modern di Tanjungpinang, lontong usus tetap menjadi pilihan. Menjadi favorit sebagian besar masyarakat Tanjungpinang yang ingin memulai pagi dengan penuh cita rasa.
“Sekarang warung lontong usus jualannya di dekat rumah kami. Jadi kalau akhir pekan kami ajak anak-anak mencoba sarapan makan lontong usus,” kata warga Jalan Pramuka Tanjungpinang ini.
Bagi Inaz dan sebagian masyarakat Tanjungpinang, menyantap dan merasakan kenikmatan lontong usus bukan hanya soal mengenyangkan perut semata, tetapi menjadi memori dan kenangan masa kecil.
“Kalau sarapan pagi, kami selalu ajarkan anak-anak kami untuk menghargai makanan sesuai ajaran agama kami. Menghargai warisan kuliner yang telah menemani Kota Tanjungpinang selama lima dekade ini,” tutupnya. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG