Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi pada Semester I-2025 tercatat sebesar Rp942,9 triliun, atau naik 13,6 persen secara tahunan atau Year-on-Year (yoy).
”Alhamdulillah realisasi investasi di Semester Pertama ini adalah Rp 942,9 triliun atau peningkatan 13,6 persen. Ini sangat sesuai dengan rencana yang kita jalankan,” kata Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, dalam konferensi pers capaian realisasi investasi Kuartal II dan Semester I-2025 di Kantornya, Selasa (29/7).
Lebih lanjut, Rosan menyampaikan bahwa realisasi investasi tersebut merupakan 49,5 persen dari target tahun 2025 senilai Rp1.905,6 triliun. Rosan juga menyampaikan penyerapan tenaga kerja Indonesia dari realisasi investasi Semester I-2025 sebanyak 1.259.868 orang. ”Jadi, ini adalah penyerapan tenaga kerja dari investasi di enam bulan pertama tahun 2025,” lanjutnya.
Dilihat dari kontribusinya, realisasi investasi Semester I-2025 paling besar berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang tercatat senilai Rp510,3 triliun. Sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) hanya tercatat sebesar Rp432,6 triliun.
Rosan menyebut, realisasi investasi ini sesuai dengan harapan pemerintah lantaran datang dari dalam dan juga luar negeri. Ia mengatakan, besarnya investasi yang datang dari dalam negeri menunjukkan keyakinan mereka, utamanya terkait nilai tambah yang bisa dihasilkan.
”Dan, kita lihat ini investasi dari dalam negeri punya kekuatan karena mereka lihat beberapa hal yang kita lihat itu menambah added value yang tinggi, dan ini menunjukkan keyakinan mereka,” jelas Rosan.
Sementara itu, dilihat dari sebaran lokasi kontribusi investasi di Pulau Jawa atau pun di luar Pulau Jawa, Rosan menyebut bahwa investasi paling banyak tercatat di luar Jawa mencapai Rp476 triliun, sedangkan di Jawa sebesar Rp466,9 triliun. ”Alhamdulillah luar Jawa higher more than Jawa, Rp476 triliun untuk luar Jawa dan di Jawa sebesar Rp466,9 triliun, jadi bedanya Rp10 triliun antara luar Jawa dan Pulau Jawa,” sambungnya.
Di sisi lain, dari subsektornya realisasi investasi dari luar negeri tercatat paling banyak untuk industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya USD 7,3 miliar. Kemudian, disusul oleh sektor pertambangan senilai USD 2,4 miliar, jasa lainnya USD 2,2 miliar, Transportasi, Gudang dan Telekomunikasi senilai USD 1,7 miliar, serta Industri Kimia dan Farmasi USD 1,6 miliar.
Sedangkan, untuk investor dalam negeri paling banyak sebesar Rp83,6 triliun. Lalu disusul oleh sektor pertambangan sebesar Rp63,1 triliun, sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran senilai Rp53 triliun, sektor perdagangan dan reparasi Rp51,1 triliun, dan jasa lainnya sebesar Rp50,6 triliun.
Di lihat dari negaranya, Rosan menyebut secara kumulatif memang Singapura masih mendominasi sudah cukup lama tercatat sebesar USD 8,8 miliar. Selanjutnya disusul Hongkong senilai USD 4,6 miliar, lalu Tiongkok USD 3,6 miliar, Malaysia USD 1,7 miliar, dan Jepang USD 1,6 miliar.
”Dan apalagi kita lihat hubungan negara di ASEAN ini makin baik ya, makin erat, dan kita lihat kepala negara saling mengunjungi cukup sering. Jadi, responsnya sangat sangat positif,” ujar Rosan.
”Terutama dari negara-negara ASEAN karena mereka sepakat di tengah tensi geopolitik yang tinggi secara regional mereka harus lebih meningkatkan dari sisi investasi dan perdagangan. Jadi ini yang dilakukan kesepakatan dan ini angkanya akan terus berkembang dari regional,” pungkasnya. (*)
Reporter : JP Group
Editor : Gustia Benny