Buka konten ini

TANJUNGPINANG (BP) – Sebanyak 4,25 juta metrik ton stockpile bauksit hasil sitaan negara yang tersimpan di wilayah Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, akan segera dilelang. Nilai mineral mentah tersebut ditaksir mencapai Rp1,4 triliun.
Pelepasan resmi aset bauksit sitaan itu dilakukan di Tanjung Moco, Tanjungpinang, Senin (28/7), oleh Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Wamenkopolhukam) RI, Lodewijk Freidrich Paulus, bersama Pelaksana Tugas Wakil Jaksa Agung, Asep N Mulyana.
Adapun titik-titik lokasi stockpile bauksit yang kini menjadi milik negara tersebar di sejumlah pulau dan kawasan di Kepri. Di antaranya, Pulau Kentar Blok 1 sebanyak 300 ribu ton, Pulau Kentar Blok 2 sebanyak 100 ribu ton, Wacopek 1 juta ton, Tembeling 200 ribu ton, Pulau Kelong 1 juta ton, Pulau Angkut 200 ribu ton, Pulau Malin 450 ribu ton, dan Pulau Dendang 150 ribu ton.
Lokasi lainnya yakni Tanjung Moco sebanyak 100 ribu ton, Senggarang Besar 200 ribu ton, Seitimun 100 ribu ton, Seicarang 50 ribu ton, Dompak Laut 100 ribu ton, serta Tanjung Lanjut yang menyimpan sekitar 300 ribu ton.
“Prosesnya akan dilelang. Nilai awal ditaksir sekitar Rp1,4 triliun. Secara kuantitatif mungkin ada penurunan karena dibiarkan begitu lama—sekitar 14 tahun. Tapi secara kualitatif, justru meningkat karena kualitas bijih bauksit membaik seiring waktu,” ujar Lodewijk.
Ia berharap proses lelang nantinya dapat dimenangkan oleh perusahaan asal Kepri. Dengan demikian, pembangunan smelter atau pabrik pengolahan bauksit bisa dilakukan langsung di wilayah ini dan membuka lapangan kerja dalam jumlah besar.
Di tempat yang sama, Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen, Sarjono Turin, menjelaskan bahwa sebelum dilelang, jutaan ton bauksit tersebut akan melalui proses pengambilan sampel untuk memastikan kualitas bijih yang telah lama tidak diolah.
“Proses lelang akan dilakukan secara transparan. Perusahaan pemenang akan melakukan pengolahan dan ekspor. Dari hasil penjualan, negara akan mendapatkan tambahan devisa,” ujarnya.
Bintan Sambut Program Pemanfaatan Bauksit Sitaan
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan menyatakan mendukungan penuh terhadap program pemanfaatan sisa bijih bauksit hasil sitaan negara yang digagas pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam).
Bupati Bintan, Roby Kurniawan, menilai, langkah tersebut sebagai bentuk optimalisasi sumber daya alam yang sebelumnya kurang termanfaatkan, namun kini berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap penerimaan negara.
”Program ini bisa menjadi tambahan devisa sekaligus mendongkrak Dana Bagi Hasil (DBH) bagi daerah, termasuk Bintan. Ini tentu sangat kita sambut, apalagi dalam situasi efisiensi anggaran seperti sekarang,” ujar Roby usai menghadiri acara wisuda lansia di Aula Kantor Camat Gunung Kijang, Senin (28/7).
Meski demikian, Roby mengaku pihaknya masih menunggu hasil verifikasi resmi terkait jumlah titik stockpile yang ada di wilayah Bintan. Pemerintah daerah juga masih menanti arahan teknis terkait skema pelaksanaan program pemanfaatan bijih bauksit ini.
”Kita masih menunggu polanya seperti apa. Tapi secara prinsip, kami mendukung,” tambahnya.
Roby juga membuka kemungkinan sisa bijih bauksit di Bintan akan diproses di smelter milik PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang. Menurutnya, pengiriman ke KEK Galang Batang lebih efisien dibandingkan ke smelter di Kalimantan Barat.
”Kalau bicara efisiensi, tentu lebih ekonomis kalau dikirim ke Galang Batang karena bisa menghemat biaya transportasi,” jelasnya.
Berdasarkan data sementara, terdapat sekitar 2.000.450 metrik ton sisa bijih bauksit yang tersebar di Bintan dan Tanjungpinang. Potensi nilai ekonominya ditaksir mencapai Rp 1,4 triliun dalam bentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). (*)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL – SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GALIH ADI SAPUTRO