Buka konten ini

TANJUNGPINANG (BP) – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 sebanyak 109,98 ribu jiwa. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan periode September 2024 yang mencapai 117,28 ribu jiwa.
Penurunan terjadi baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang dari 102,23 ribu jiwa pada September 2024 menjadi 101,34 ribu jiwa pada Maret 2025. Sementara itu, di perdesaan, jumlahnya menurun lebih signifikan, dari 22,72 ribu jiwa menjadi 15,94 ribu jiwa.
Kepala BPS Kepri, Margaretha Ari Anggorowati, mengatakan bahwa salah satu faktor yang mendorong penurunan ini adalah program bantuan sosial dari pemerintah pusat, seperti Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH) yang disalurkan secara rutin.
“Penurunan ini turut dipengaruhi oleh program perlindungan sosial yang tetap dijalankan oleh pemerintah,” ujar Margaretha dalam rilis resminya, Senin (28/7).
Ia juga menyampaikan bahwa kondisi ekonomi Kepri pada awal tahun 2025 turut mendukung perbaikan kesejahteraan masyarakat. Pada triwulan I 2025, pertumbuhan ekonomi Kepri tercatat sebesar 5,16 persen secara tahunan (y-on-y). Rata-rata upah buruh selama Februari 2024 hingga Februari 2025 meningkat sebesar 6,73 persen. Sementara itu, proporsi pekerja formal naik 0,74 persen poin dalam periode yang sama.
“Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2025 juga menurun menjadi 6,89 persen, dari sebelumnya 6,94 persen pada Februari 2024,” tambah Margaretha.
Meski angka kemiskinan menurun, garis kemiskinan di Kepri tercatat naik 3,07 persen. Pada September 2024, garis kemiskinan sebesar Rp807.602 per kapita per bulan, meningkat menjadi Rp832.410 per kapita per bulan pada Maret 2025.
“Penduduk miskin adalah mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan,” pungkas Margaretha. (***)
Reporter : MOHAMAD ISMAIL
Editor : GALIH ADI SAPUTRO