Buka konten ini

Di balik layar sebuah film pendek yang diputar di festival film internasional, terselip nama Widi Adeneza. Sinematografer muda asal Tanjungpinang ini mulai diperhitungkan di kancah sinema global.
LEWAT tangan dingin, mata tajam, dan kreativitasnya dalam menggarap film, karya Widi berhasil menggugah publik. Film pendek yang dihasilkannya sukses menyabet penghargaan bergengsi internasional, mengalahkan puluhan karya dari berbagai negara.
Karya yang mengangkat tema toleransi kehidupan di Tanjungpinang dan Bintan itu menjadi gerbang kesuksesan pertamanya. Dengan visual yang membumi dan kental nuansa lokal, film tersebut memikat perhatian juri internasional.
Sebagai sinematografer, Widi menyabet penghargaan Best Cinematography dalam ajang Kinosuite International Film Festival 2024 di Jakarta. Rekannya, Osama Almadani asal Aceh, juga meraih predikat Best Director untuk film yang sama.
Film berjudul ”Gereja di Seberang Sana” itu turut dinobatkan sebagai Official Selection dalam Madani International Film Festival 2024 di Jakarta.
Kepada Batam Pos, Widi bercerita bahwa film berdurasi 15 menit tersebut mengangkat tema tak biasa: toleransi antarumat beragama di Tanjungpinang dan Bintan.
Ia mengaku berani mengangkat isu ini karena daerah kelahirannya merupakan tempat yang damai, penuh toleransi, dan saling tolong-menolong meski di tengah keberagaman agama, suku, dan adat.
“Tanjungpinang dan Bintan adalah sumber inspirasi, penuh potensi cerita hebat. Yang dibutuhkan hanya ide segar dan keberanian untuk mengangkatnya,” ujar Widi saat ditemui di Warung Kopi Batu 8 Tanjungpinang, Ahad (27/7).
Pencapaian ini menjadi catatan manis sekaligus pijakan awal bagi Widi untuk terus berkarya di dunia sinematografi. Pemuda 24 tahun itu bersyukur telah mengenal kamera sejak muda. Baginya, kamera bukan sekadar alat dokumentasi, melainkan alat perjuangan.
“Senjata” untuk menyampaikan cerita dan jendela melihat dunia lebih dalam.
”Alhamdulillah. Bagi kami, kamera adalah medium untuk berkarya dan menyuarakan kehidupan yang jarang terdengar,” ucap lulusan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini.
Widi menegaskan, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Yang terpenting baginya adalah tetap rendah hati dan terus kreatif. Ia ingin menginspirasi banyak orang melalui film pendek yang berkualitas.
”Satu hal yang pasti, kamera bisa menjadi alat untuk menyuarakan hal-hal besar dan layak,” tegasnya penuh semangat.
Terjun ke Dunia Film Sejak SMA
Karier Widi di dunia sinematografi berawal dari ruang-ruang sempit di kota kecil Tanjungpinang. Kecintaannya pada kamera dan visual tumbuh sejak duduk di bangku SMA.
Kala itu, di sela-sela kegiatan belajar, ia aktif mengikuti ekstrakurikuler Pramuka. Dari sinilah perkenalannya dengan dunia visual dimulai.
”Waktu itu ada lomba keterampilan Pramuka, salah satu kategorinya film pendek. Kami iseng ikut. Saya jadi sinematografer dan kawan saya jadi sutradara,” kenang alumni SMA Negeri 1 Tanjungpinang ini.
Tujuh tahun lalu, Widi dan tim membuat film pendek berjudul Intropunitif, bertema bahaya narkoba. Dengan kamera pribadi dan waktu terbatas, film itu digarap kilat untuk mengikuti Scout Skill Competition.
”Alhamdulillah, film pendek kami meraih juara pertama,” ujarnya, yang juga piawai di bidang editing video.
Tak berhenti di situ, Widi bersama tim juga memproduksi film-film pendek lainnya seperti Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Reminisensi, dan Kontemplasi. Tahun 2019, Widi mantap melangkah menekuni dunia film dengan menempuh pendidikan di Fakultas Film dan Televisi IKJ, konsentrasi sinematografi. Di sana, ia bertemu banyak dosen sekaligus praktisi film senior. Ia mendalami penyutradaraan, teknik pencahayaan, pengambilan gambar, komposisi, hingga ritme visual dalam bercerita.
“Kami belajar bahwa sinematografi bukan sekadar gambar indah, tapi bagaimana visual mampu membangun rasa dan menyampaikan pesan,” ungkapnya.
Menyalakan Semangat Generasi Muda Tanjungpinang
Kini, Widi pulang kampung dengan misi. Ia ingin memperkenalkan dunia film kepada generasi muda Tanjungpinang. Baginya, kemenangan di ajang internasional adalah awal untuk berbagi inspirasi pada yang lainnya.
“Anak muda Tanjungpinang sebenarnya punya potensi besar. Kami ingin mengajak mereka semangat dan mengenal dunia film,” tegasnya.
Untuk itu, Widi membentuk program independen bernama Suka Sinema. Program ini menayangkan film-film festival yang tak tayang di bioskop atau platform digital umum.
Melalui seminar Suka Sinema, Widi memperkenalkan teknik sinematografi dan pentingnya riset, serta berbagi ilmu pengambilan gambar yang sederhana tapi efektif. Ia juga memutar film pendek dari dalam dan luar negeri sebagai referensi.
”Saat ini kami mencoba mengumpulkan anak-anak muda yang satu visi, agar bisa berkarya bersama di dunia film,” ujarnya.
Meski dunia film penuh tantangan—mulai dari mencari talenta, keterbatasan dana, sulitnya distribusi, hingga minim dukungan—Widi tetap optimistis. Selama ada ide segar dan keberanian, film pendek akan selalu dihargai.
Tanjungpinang tetap menjadi sumber inspirasinya. Ia percaya, siapa pun yang punya cerita dan tekad, kamera bisa menjadi alat paling ampuh untuk menyuarakan gagasan.
”Harapannya, kami bisa menembus industri film yang lebih besar. Setidaknya, setahun sekali bisa memproduksi satu film pendek,” harapnya, penuh keyakinan. (***)
Reporter : Yusnadi Nazar
Editor : RYAN AGUNG