Buka konten ini

BINTAN (BP) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam sejumlah wilayah di Kabupaten Bintan. Dalam beberapa pekan terakhir, lonjakan kejadian karhutla tercatat di wilayah Tanjunguban, Seri Kuala Lobam, dan Teluk Sebong.
Kepala UPT Pemadam Kebakaran (Damkar) Tanjunguban, Panyodi, menyebutkan bahwa selama bulan Juli, pihaknya telah menangani 12 kejadian karhutla hingga tanggal 24 Juli. Angka itu meningkat dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya mencatat enam kasus.
Yang mencemaskan, dalam rentang sepekan terakhir saja—yakni sejak 18 hingga 24 Juli—terjadi sembilan kejadian karhutla di kawasan tersebut.
”Cuaca panas dan kelalaian manusia masih menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran,” ujar Panyodi saat dikonfirmasi, Minggu (27/7).
Ia menjelaskan, tim di lapangan menghadapi banyak kendala saat melakukan pemadaman. Di antaranya, akses jalan menuju titik api yang sulit dijangkau kendaraan, serta panjang selang yang tidak mencukupi hingga ke lokasi kebakaran.
“Karena itu, banyak pemadaman terpaksa dilakukan secara manual, atau yang kami sebut dengan metode keprok-keprok menggunakan ranting pohon,” tuturnya.
Kendala lain yang memperlambat proses pemadaman adalah jauhnya sumber air dari lokasi kebakaran. Kondisi itu diperparah oleh tiupan angin kencang yang mempercepat penyebaran api dan menyulitkan pengendalian di lapangan.
“Ada juga laporan lokasi kebakaran yang tidak akurat, sehingga kami kehilangan waktu untuk mencari titik api,” tambahnya.
Panyodi mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan tidak melakukan pembakaran sembarangan, terutama di dekat semak belukar atau saat membuka lahan.
“Jika melihat ada api atau kejadian kebakaran, segera hubungi Damkar agar bisa ditangani sebelum meluas,” pungkasnya. (*)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GALIH ADI SAPUTRO