Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Setiap tahun Indonesia mengimpor 12 juta ton gandum, untuk diolah jadi mi instan. Kondisi itu menjadi keprihatinan Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Dia mendorong untuk pemanfaatan sumber pangan lokal. Misalnya gandum diganti dengan sorgum.
Dia mengatakan, konsumsi sumber pangan lokal bukan sebatas urusan perut. Tetapi juga ada nilai-nilai budayanya. Selain itu juga untuk mewujudkan diversifikasi pangan. Sehingga masyarakat tidak tergantung pada satu bahan pangan saja.
”Kita perlu memperkuat diversifikasi pangan agar tidak terus bergantung pada impor,” ujarnya. Dia menjelaskan saat ini Indonesia mengimpor 12 juta ton gandum, yang sebagian besar diolah menjadi mie instan dan produk lainnya.
Impor gandum ini bisa menghabiskan devisa negara. Selain itu, Indonesia sebelumnya juga masih mengimpor 2-3 juta ton beras. Dia menilai kondisi ini bisa merugikan para petani.
Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk mendorong pengenalan sumber pangan lokal. Supaya masyarakat tidak selalu mengkonsumsi beras.
Untuk diketahui pangan pokok masyarakat Indonesia adalah beras. Tetapi di sejumlah daerah banyak ditemui sumber pangan lokal. Seperti sagu dan jagung. Ada juga pangan lokal berubi ubi-ubian. Dengan meningkatnya konsumsi pangan lokal, otomatis mengurangi ketergantungan terhadap beras.
Sosialisasi pemanfaatan pangan lokal itu dilakukan lewat Jambore Pemuda Peduli Pangan Lokal (JPPPL). Jambore yang diselenggarakan oleh Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Ditjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan digelar di Kecamatan Linggang Bigung, Kampung Linggang Malapeh, Kabupaten Kutai Barat.
Direktur Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan Sjamsul Hadi mengatakan, keberadaan pangan lokal sangat penting. Pangan lokal dan budaya adalah dua entitas yang tak terpisahkan,” kata Sjamsul dalam keterangannya Sabtu (26/7).
Dia menjelaskan, kegiatan jambore itu sangat strategis. Karena mengajak pemuda kembali terkoneksi dengan akar budaya dan sumber pangan mereka sendiri.
Dia meyakini, pemuda sebagai agen perubahan mampu membangun masa depan yang berkelanjutan dan adil. Khususnya di sektor pangan.(*)
Reporter : JP Group
Editor : Gustia Benny