Buka konten ini

BATUAJI (BP) – Dalam sebulan terakhir, Kota Batam diwarnai dengan dugaan empat kasus bunuh diri yang terjadi di empat kecamatan berbeda, yakni Batuaji; Sekupang; Batam Kota; dan Bengkong. Para korban diduga mengakhiri hidup dengan berbagai cara, mulai dari gantung diri hingga menyayat urat nadi.
Kasus terbaru menimpa MIA, pria 30 tahun, warga Kampung Durian RT 06/RW 01. Ia ditemukan dalam kondisi tergantung di dalam konter ponsel miliknya, Minggu (20/7) sekitar pukul 10.40 WIB.
“Hasil pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan selain jeratan tali di leher korban,” ungkap Kapolsek Bengkong, Iptu Yuli Endra, Minggu sore.
Dari hasil pemeriksaan sementara, korban diduga mengakhiri hidup akibat tekanan ekonomi dan masalah rumah tangga. Menurut keterangan pengelola kios, korban belum membayar sewa selama tiga bulan terakhir dan telah diminta untuk segera mengosongkan tempat usahanya.
“Jenazah korban sudah diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan,” tambah Endra.
Menanggapi fenomena ini, Psikolog Irfan Aulia menyebutkan bahwa rentetan kasus tersebut menunjukkan adanya permasalahan kesehatan mental yang perlu ditangani secara serius. “Seseorang yang sedang menghadapi masalah hidup perlu mendapatkan edukasi agar bisa menyelesaikan persoalannya dengan cara yang sehat,” ujarnya.
Menurut Irfan, edukasi tersebut penting untuk membangun ketahanan diri dan mencegah pikiran untuk menyakiti diri sendiri. “Edukasi dan dukungan sosial adalah upaya penting untuk saling membantu mencegah kasus bunuh diri. Jangan anggap sepele,” katanya.
Ia juga menyoroti pengaruh media sosial dalam memperparah kondisi psikologis seseorang. Tak jarang, korban ingin mendapatkan pengakuan atau perhatian melalui cara tragis seperti bunuh diri.
“Ada yang merasa bunuh diri bisa menjadi cara untuk mendapat pengakuan. Ini salah kaprah dan harus dicegah sejak dini,” tegas Irfan.
Konten dalam artikel ini membahas isu sensitif yang diduga terkait bunuh diri. Jika Anda merasa tertekan secara emosional atau mengalami gejala depresi, segera hubungi psikolog, psikiater, atau layanan konseling kesehatan jiwa terdekat. (*)
Reporter : Yofi Yuhendri
Editor : RATNA IRTATIK