Buka konten ini

BINTAN (BP) – Sejumlah pelajar di Kabupaten Bintan terindikasi terpapar perilaku menyimpang Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3KB) Bintan, terdapat lima kasus LGBT pada anak yang masih dalam penanganan.
”Memang jumlahnya tidak terlalu banyak. Namun dari tahun lalu hingga sekarang, ada lima kasus LGBT yang masih kami tangani,” ungkap Kepala DP3KB Bintan, Aryati, usai peringatan Hari Anak Nasional di Kawaland Glamping Resort, Rabu (23/7).
Aryati mengaku awalnya mengira kasus LGBT hanya marak di wilayah perkotaan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa perilaku tersebut juga mulai muncul di wilayah pedesaan Bintan.
“Anak-anak di pedesaan ternyata juga sudah terpapar pengaruh LGBT,” katanya prihatin.
Ia menjelaskan, laporan awal datang dari pihak sekolah dan forum anak setelah mendeteksi adanya indikasi pergaulan tidak sehat di lingkungan pelajar. Menindaklanjuti laporan tersebut, DP3KB segera berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk memberikan pendampingan.
“Anak-anak yang terindikasi langsung kami berikan konseling. Bila dibutuhkan penanganan lebih lanjut, kami rujuk ke RSJKO,” tambahnya.
Menurut Aryati, salah satu pemicu utama terpaparnya anak terhadap perilaku LGBT adalah kemudahan akses terhadap konten di dunia maya. Banyak di antara mereka diketahui mengakses situs-situs berbasis internasional yang mempromosikan komunitas LGBT.
“Penyebarannya cepat, seperti virus. Anak-anak bisa terpengaruh hanya lewat lingkungan atau internet,” tegasnya.
Sebagai langkah pencegahan, DP3KB Bintan terus melakukan edukasi melalui berbagai lembaga seperti Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), forum anak, serta pemerhati anak di tingkat masyarakat.
“Kami bekali mereka dengan informasi dan strategi penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk LGBT. Harapannya, mereka bisa menyebarkan pemahaman itu ke masyarakat luas,” jelas Aryati.
Salah satu remaja yang hadir dalam acara tersebut, Firman, mengaku senang dengan edukasi yang diberikan pemerintah. Ia berharap kegiatan seperti ini terus digalakkan agar anak-anak tidak mudah terpengaruh.
“LGBT itu sangat berbahaya, apalagi bagi anak-anak yang minim informasi,” ujarnya.
Bupati Bintan, Roby Kurniawan, juga menanggapi serius persoalan ini. Menurutnya, penanganan kasus LGBT pada anak harus dilakukan secara hati-hati dan humanis.
“Kami minta forum anak dan duta genre untuk melakukan pendekatan terlebih dahulu. Setelah itu baru ditangani oleh instansi terkait,” ujar Roby. (*)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GALIH ADI SAPUTRO