Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Sudah hampir sebulan harga daging sapi beku di Kota Batam melonjak, namun Pemerintah Kota (Pemko) Batam belum berencana menggelar operasi pasar murah untuk menekan lonjakan harga tersebut. Padahal, daging beku selama ini menjadi alternatif utama bagi masyarakat karena harganya lebih terjangkau dibandingkan daging segar.
Ketika ditanya soal rencana intervensi harga, seperti operasi pasar, Kepala Bagian Ekonomi Setdako Batam, Zul Arif, menyatakan belum ada pembahasan ke arah sana. “Belum ada pembicaraan soal itu,” ujar Zul, Selasa (22/7).
Menurutnya, urusan teknis terkait pengawasan dan pengendalian harga bahan pokok seperti daging, ayam, dan sayur-mayur menjadi kewenangan Dinas Ketahanan Pangan dan Disperindag. “Kami hanya sebagai koordinator. Soal teknis, itu domain dinas,” ujarnya.
Ia menambahkan, tugas Bagian Ekonomi hanya mengumpulkan data harian dari hasil survei dinas teknis, kemudian diteruskan ke Inspektorat dan dilaporkan ke pemerintah pusat. “Kalau bicara teknis mengenai daging beku, itu sudah di luar ranah kami,” katanya.
Kenaikan harga daging beku di pasaran disebut terjadi bersamaan dengan naiknya komoditas lain seperti cabai, bawang, dan potensi beras. Namun, hingga kini belum terlihat langkah konkret dari pemerintah daerah untuk merespons kenaikan itu dengan tindakan langsung ke lapangan.
Selama ini, langkah pengendalian inflasi daerah yang dilakukan TPID bersama OPD teknis baru sebatas sidak dan survei harga harian. Dari data tersebut, pemerintah bisa mengidentifikasi komoditas yang bermasalah, namun belum terlihat upaya stabilisasi harga secara nyata.
Masyarakat pun berharap pemerintah daerah bisa segera menggelar pasar murah atau subsidi harga, demi menjaga daya beli warga yang semakin tertekan. Apalagi daging beku kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama bagi sebagian besar rumah tangga di Batam.
Sebelumnya, Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kota Batam, Wahyu Daryatin, menyampaikan bahwa kenaikan harga daging sapi beku bukan hanya terjadi di Batam, tetapi juga di sejumlah daerah lainnya di Indonesia.
”Semua daerah alami kenaikan harga daging, terutama daging sapi. Kalau daging ayam masih relatif stabil,” ujarnya.
Di Batam, harga daging sapi beku sebelumnya berkisar antara Rp70 ribu hingga Rp85 ribu per kilogram. Kini, harganya melonjak hingga mendekati daging segar yang berada di kisaran Rp150 ribu per kilogram.
Berdasarkan data Disperindag, kebutuhan daging sapi—baik beku maupun segar—di Batam mencapai sekitar 100 ton per bulan. Tingginya kebutuhan dan minimnya pasokan memperparah situasi di lapangan.
Wahyu menyebut, mayoritas daging beku yang masuk ke Batam berasal dari Australia. Tingginya harga dari negara asal tersebut menjadi salah satu pemicu lonjakan harga di tingkat pengecer.
“Begitu daging itu sampai di Batam, harganya memang sudah tinggi. Itu salah satu penyebabnya,” kata Wahyu.
Untuk menanggulangi masalah ini, Pemko Batam sudah menggelar rapat bersama BP Batam, Bea Cukai, dan Balai Karantina. Salah satu solusi yang dibahas adalah membuka jalur impor alternatif dari negara lain seperti India atau Brazil, yang dinilai lebih terjangkau.
“Namun masalahnya, distribusi dari India atau Brazil biasanya masuknya dari Jakarta. Kalau lewat Jakarta, harga tetap tinggi karena biaya distribusinya mahal,” ujarnya.
Pemko Batam masih menunggu kepastian kebijakan dari pemerintah pusat untuk pengadaan daging impor. Wahyu mengaku pihaknya sudah menyampaikan usulan agar stok yang berada di Jakarta juga dapat disalurkan ke Batam dengan harga lebih terjangkau.
“Kami terus berkoordinasi dan segera bersurat ke kementerian agar situasi ini bisa mendapat perhatian,” ucapnya. (*)
Reporter : Arjuna
Editor : RATNA IRTATIK