Buka konten ini

SYRIA (BP) – Konflik bersenjata kembali mengguncang wilayah selatan Suriah. Dalam empat hari terakhir, ratusan orang dilaporkan tewas, termasuk warga sipil. Kekerasan ini memperlihatkan betapa rentannya situasi di negara yang baru saja mengalami pergantian rezim setelah penggulingan Bashar al-Assad pada Desember lalu.
Bentrok yang berpusat di Provinsi Sweida ini menyeret berbagai aktor, baik lokal maupun internasional, memunculkan kembali aroma perang saudara yang pernah mengoyak negeri itu selama lebih dari satu dekade. Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, Turki, dan sejumlah negara Arab telah diberlakukan sejak Kamis (17/7), meski sejumlah kekerasan sporadis masih dilaporkan.
Misi Konsolidasi yang Tak Mudah
Ahmad al-Sharaa, Presiden Interim Suriah, kini memimpin pemerintahan baru yang menggantikan rezim Assad. Ia merupakan tokoh utama dari kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang sebelumnya berafiliasi dengan Al-Qaeda sebelum akhirnya memisahkan diri dan tampil sebagai motor utama penggulingan Assad.
Sejak naik ke tampuk kekuasaan, al-Sharaa mengusung citra moderat. Ia menyerukan toleransi, koeksistensi, dan mulai membangun hubungan diplomatik dengan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat. Namun, upaya konsolidasi kekuasaan masih terjal menghadapi ketegangan sektarian serta curiga dari berbagai komunitas minoritas seperti Alawi, Kristen, Kurdi, dan Druze.
Di Sweida, pasukan pemerintah awalnya dikerahkan untuk meredam konflik antara milisi Druze dan suku Badui. Namun, situasi justru memburuk saat pasukan pemerintah terlibat bentrok langsung dengan kelompok Druze. Bentrok ini memicu serangan udara dari Israel, yang mengklaim bertindak untuk melindungi komunitas Druze. Beberapa prajurit pemerintah dituduh membunuh warga sipil Druze, menjarah, dan membakar rumah warga.
Antara Otonomi dan Integrasi
Druze merupakan etnis Arab yang memeluk keyakinan khusus, turunan dari cabang Islam abad ke-11. Ajarannya menggabungkan unsur Islam dan filsafat lain, dengan fokus pada tauhid, reinkarnasi, dan pencarian kebenaran. Praktik keagamaannya bersifat tertutup.
Dalam pidatonya, al-Sharaa menyebut komunitas Druze sebagai bagian integral dari “tenun kebangsaan Suriah” dan berjanji melindungi hak-hak mereka. Namun, banyak kalangan menilai janji itu belum cukup untuk menghapus rekam jejak masa lalu HTS yang berbau ekstremis.
Komunitas Druze tersebar di barat daya Suriah—terutama di Sweida, wilayah perbatasan dengan Yordania—serta di Quneitra dan Jaramana, pinggiran Damaskus. Di Israel, terdapat sekitar 150.000 warga Druze, sebagian besar tinggal di wilayah utara dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki. (*)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MUHAMMAD TAHANG