Buka konten ini

Direktur Indonesia Political Review (IPR)
Runtuhnya Uni Soviet pada 1990-an yang diikuti bubarnya Blok Timur membawa harapan baru bagi dunia. Perang Dingin yang terjadi beberapa dekade membuat dunia khawatir Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat (AS) dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet pecah menjadi perang nuklir. Dengan runtuhnya Uni Soviet, kekhawatiran terjadinya perang besar antara dua kekuatan negara adidaya dan sekutunya itu tidak terjadi sehingga dunia terbebas dari ancaman perang besar.
Harapan dan angin baru dari runtuhnya Uni Soviet agar tercipta tata dunia yang damai, rupanya, tidak sesuai dengan angan-angan. Tidak adanya kekuatan dan blok penyeimbang malah memunculkan dominasi tunggal AS. Dominasi itu tak hanya pada kekuatan militer, tetapi juga kekuatan ekonomi. Tak adanya penyeimbang itulah yang membuat AS bisa semena-mena mengatur dunia.
Mendominasi Dunia
Meski kekuatan politik di dalam negeri AS selalu berubah dari Partai Republik ke Demokrat, begitu seterusnya, napas politik luar negeri dari presiden ke presiden asal kedua partai politik itu tetap sama, senapas, yakni mendominasi dunia dalam berbagai hal.
Kebijakan yang ingin mendominasi dan menjadi pemimpin dunia itulah yang membuat AS melibas negara-negara yang melawan atau tidak patuh pada kemauan mereka. AS mempunyai banyak instrumen untuk menekan negara-negara yang tidak mau tunduk atau patuh. Di antaranya, kekuatan militer, ekonomi, hak veto di PBB, serta lembaga-lembaga dunia lain yang bisa dikendalikan.
Instrumen-instrumen itu membuat AS bisa merajalela di dunia dan membuat petaka. Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah, baik di Palestina, Iran, Iraq, maupun negara lain, merupakan akibat standar ganda politik AS. Negara itu bisa menjadikan kawasan tersebut apa saja sesuai dengan kemauan mereka. Perang dan damai bisa dibuat AS.
Arogansi kekuatan militer itu tidak hanya terjadi di Timur Tengah, tetapi juga di banyak belahan dunia lain, termasuk Asia.
Kekuatan Ekonomi
Sebagai negara yang kerap menggunakan standar ganda, AS tidak hanya menekan bangsa-bangsa lain dengan kekuatan militer, tetapi juga kekuatan ekonomi. Sebagai negara besar dengan jumlah penduduk terbanyak ketiga di dunia, AS adalah pasar yang menguntungkan bagi negara lain. Karena itu, mereka berlomba-lomba mengekspor barang ke sana.
Sebagai pasar yang besar, AS tidak ingin negara pengekspor yang hanya untung. Untuk mengkapitalisasi tujuan ekspor dari banyak negara, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan kebijakan tarif baru bagi mereka. Tarif yang dikenakan tidak tanggung-tanggung, mulai 20 persen hingga 50 persen. Bagi anggota BRICS, tarif ditambah 10 persen.
Kebijakan itu diterapkan agar AS untung dari perdagangan dengan negara lain. Sebelum Trump mengeluarkan tarif baru tersebut, negeri itu mengakui tak banyak mendapat keuntungan dari perdagangan dengan negara-negara lain. Bagi negara pengekspor, kebijakan tarif baru itu sangat merugikan dan bisa dikatakan semena-mena.
Dua kebijakan AS itu pun mendapat respons yang tak sedap dari banyak negara sehingga ada keinginan untuk menolak dan melawan. Rusia menolak secara frontal dengan menginvasi Ukraina. Iran juga berani membalas serangan Israel dan AS di pangkalan militer Qatar dan Korea Utara.
Negara-negara yang tak mampu melawan secara frontal bergabung dengan blok baru seperti BRICS. Block yang menghimpun Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Indonesia itu mempunyai semangat untuk meredam sikap kebablasan AS dan sekutunya dalam perpolitikan dunia.
BRICS disebut menghidupkan kembali semangat Konferensi Asia Afrika (KAA) yang dicetuskan di Bandung, Indonesia, pada 1955, yakni melawan imperialisme dan menghapus segala bentuk penjajahan di dunia. Dalam pertemuannya di Brasil, BRICS mengecam serangan militer ke Iran.
Negosiasi Tarif
Namun, di antara negara-negara yang ingin menghentikan arogansi AS itu, ada yang melakukan negosiasi tarif dan membuat kesepakatan-kesepakatan lain seperti perjanjian pembelian senjata. Bahkan, ada negara yang melakukan negosiasi dengan cara ’’banting harga’’. Segala skema dilakukan agar tarif turun, bahkan iming-iming tarif impor AS turun hingga 0 persen.
Apabila dilandasi ketidakhati-hatian, melunak kepada AS dengan mengalah dalam negosiasi penurunan tarif kelak bisa merugikan perekonomian bangsa. Di sini terlihat adanya ketidakberdayaan bangsa-bangsa di dunia sehingga mudah ditekan dan akhirnya menuruti apa yang dimaui AS. Ada sikap maju mundur dalam melawan Amerika.
Harus diakui, saat ini AS merupakan negara yang sangat berpengaruh. Untuk meredam mereka, kita perlu mendukung negara-negara lain yang bisa menjadi rival. Saat ini dua negara yang bisa menjadi rival AS adalah Rusia dan Tiongkok (China). Di antara dua negara itu, Tiongkok lebih siap. Rusia, meski mempunyai kekuatan militer, bukan kekuatan ekonomi. Sementara Tiongkok, selain memiliki kekuatan baru militer, juga merupakan kekuatan ekonomi. Dominasi Tiongkok sudah tampak di berbagai belahan dunia, tetapi belum seprogresif AS.
’’Mendukung’’ Tiongkok dan Rusia untuk menandingi AS jangan ditafsirkan untuk bergabung dalam blok mereka atau arah politik condong ke Rusia dan Tiongkok. Namun, langkah dukungan merupakan upaya untuk menyeimbangkan kekuatan dunia sehingga AS tidak semena-mena dalam melakukan politik luar negeri. Keseimbangan itulah yang sangat berpeluang menciptakan stabilitas dunia. (*)