Buka konten ini

COPENHAGEN (BP) – Gunung api kembali meletus di barat daya Islandia, Rabu (16/7). Letusan kali ini terjadi tanpa banyak tanda awal. Asap tebal membubung ke langit, disusul aliran lava panas berwarna kuning-oranye yang mengalir deras dari celah memanjang di permukaan bumi. Pemandangan dramatis ini disiarkan langsung oleh sejumlah media lokal.
Dilansir dari channelnewsasia.com, letusan ini menjadi yang terbaru dari rangkaian aktivitas vulkanik yang terus berlangsung di sekitar ibu kota dalam beberapa tahun terakhir. Islandia sendiri dikenal sebagai “negeri es dan api” karena keberadaan gletser dan gunung api yang saling berdampingan.
Kantor Meteorologi Islandia mengonfirmasi bahwa magma telah menembus kerak bumi dan menciptakan retakan besar sepanjang 700 hingga 1.000 meter. Menurut mereka, letusan kali ini terbilang kecil dan tidak mengancam infrastruktur penting.
“Berdasarkan pengukuran GPS dan sinyal deformasi, kemungkinan besar ini merupakan letusan berskala kecil dan tidak membahayakan fasilitas apa pun saat ini,” tulis pihak meteorologi dalam pernyataan resminya.
Meski begitu, kewaspadaan tetap diterapkan. Bandara Keflavik di Reykjavik, ibu kota Islandia, tetap beroperasi normal tanpa gangguan lalu lintas udara.
Sementara itu, stasiun penyiaran nasional RUV melaporkan bahwa sejumlah pengunjung Blue Lagoon — resor pemandian air panas mewah yang populer di kalangan wisatawan — telah dievakuasi. Warga dari kota Grindavik yang berada di dekat lokasi letusan juga diminta mengungsi.
Grindavik, yang sebelumnya dihuni hampir 4.000 jiwa, memang telah dievakuasi sejak 2023 karena ancaman berulang dari letusan dan gempa bumi. Hingga kini, kota itu masih belum sepenuhnya dihuni kembali.
Sejauh ini, letusan di wilayah Semenanjung Reykjanes belum berdampak langsung ke Reykjavik dan belum menyemburkan abu vulkanik dalam jumlah besar ke atmosfer. Karena itu, jalur penerbangan tetap aman dan tidak mengalami gangguan.
Para ahli memperkirakan aktivitas vulkanik di kawasan ini dapat terus berlangsung selama puluhan bahkan ratusan tahun. Pola letusan yang terjadi dikenal sebagai letusan retakan — lava muncul dari celah panjang di permukaan bumi, bukan dari kawah utama seperti umumnya letusan gunung api. (*)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MUHAMMAD TAHANG