Buka konten ini
BATAM (BP) – Pemerintah akhirnya mengungkap sejumlah persoalan mendasar yang selama ini menjadi pemicu banjir di Kota Batam. Setelah melakukan peninjauan intensif selama 18 hari di sembilan kecamatan utama (mainland), BP Batam bersama Pemerintah Kota (Pemko) Batam mengklaim telah berhasil memetakan akar persoalan banjir yang kerap terjadi.
Peninjauan ini dipimpin Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto. Setiap titik banjir ditelusuri secara rinci untuk mengidentifikasi penyebab utamanya. Hasilnya, pemerintah kini mengantongi peta lengkap penyebab banjir yang selama ini tak kunjung tuntas ditangani.
“Sudah kita identifikasi dan terindikasi penyebab utamanya. Dari situ kita bisa merumuskan langkah penanganannya,” ujar Mouris, Minggu (6/7).
Ia menyebut banjir di Batam disebabkan kombinasi faktor alam dan kesalahan tata kelola lingkungan. Salah satu penyebab dominan adalah kondisi topografi wilayah yang berbentuk cekungan, sehingga memerangkap air saat hujan deras.
Namun, faktor buatan manusia justru menjadi pemicu utama. Saluran drainase yang terlalu kecil, tersumbat sampah, hingga terputus di tengah jalan menyebabkan air tidak mengalir ke hilir.
“Banyak saluran air yang putus. Air jadi terjebak dan akhirnya meluap. Ini makin parah dengan keberadaan bangunan liar di atas Garis Sempadan Sungai (GSS),” jelasnya.
Bangunan-bangunan permanen yang berdiri di atas aliran air ini menjadi penghambat utama normalisasi. Akibatnya, beberapa saluran tidak bisa difungsikan secara optimal.
Untuk menanggulangi persoalan ini, pemerintah menyiapkan dua jalur solusi: jangka pendek dan jangka panjang.
Penanganan jangka pendek dilakukan melalui normalisasi saluran menggunakan alat berat dan pembersihan drainase secara masif.
Sementara dalam jangka panjang, pemerintah merancang pembangunan drainase baru, pelebaran saluran air, hingga pembangunan kolam retensi multifungsi di sejumlah titik rawan banjir.
“Kita benahi satu per satu secara maraton. Pemerintah melakukan langkah cepat untuk solusi sementara, sembari mempersiapkan proyek besar jangka panjang,” ujarnya.
Mouris menegaskan proyek jangka panjang membutuhkan perencanaan matang serta dukungan anggaran besar. Beberapa proyek seperti penggantian box culvert menjadi jembatan juga sudah masuk daftar prioritas pembangunan.
“Solusi jangka panjang ini akan kita masukkan ke dalam perencanaan 2026. Tapi proses persiapannya sudah dimulai sejak sekarang,” katanya.
Di sisi lain, ia juga meminta dukungan lintas sektor dan partisipasi warga untuk menjaga kebersihan dan kelestarian drainase. Tanpa peran aktif masyarakat, sebaik apa pun program pemerintah tak akan berdampak maksimal.
“Jangan buang sampah di saluran air. Warga harus ikut menjaga lingkungan. Ini tanggung jawab bersama,” katanya.
Perbaikan infrastruktur tanpa diiringi perubahan pola hidup hanya akan membuat masalah banjir terus berulang.
“Upaya kami sudah maksimal. Kini tinggal bagaimana semua pihak ikut terlibat. Pemerintah, swasta, dan masyarakat harus bergandeng tangan,” tegasnya.
Mouris juga berharap masyarakat Batam bersabar dan mendukung langkah-langkah yang tengah ditempuh, meski progresnya bertahap dan belum bisa langsung menyelesaikan seluruh persoalan.
“Kami berkomitmen menuntaskan persoalan banjir ini. Tapi tentu tidak bisa instan. Perlu waktu, anggaran, dan kerja sama dari semua elemen,” tutupnya. (*)
Reporter : Arjuna
Editor : RATNA IRTATIK