Buka konten ini
WASHINGTON (BP) – Perang antara Iran versus Israel berakhir setelah Amerika Serikat melakukan intervensi dengan mengebom situs nuklir Iran dengan 12 bunker buster (penghancur bunker) seberat 30 ribu pon (22/6). Bom GBU-57A/B itu dibawa oleh enam pesawat pengebom siluman B-2.
Hanya B-2 yang memiliki kemampuan untuk membawa bom penghancur bunker. Muncul seruan di Washington untuk melengkapi Israel dengan B-2 sehingga memungkinkan Israel untuk menyerang situs-situs nuklir semacam itu di masa mendatang tanpa keterlibatan langsung AS.
Seperti disuarakan oleh anggota kongres AS Josh Gottheimer (Demokrat-New Jersey) dan Mike Lawler (Republik-New York), sedang disusun rancangan undang-undang (RUU) yang bertujuan memberi wewenang kepada Presiden AS Donald Trump untuk mendukung pertahanan Israel.
Yakni, dengan menyediakan Massive Ordnance Penetrator (MOP) atau bom penghancur bunker beserta pesawat yang diperlukan untuk membawanya. Itu mengingat satu-satunya pesawat siluman milik Israel adalah F-35 Lightning II yang terlalu kecil untuk membawa MOP.
Membekali Israel dengan kemampuan ini secara langsung memperkuat keamanan nasional Amerika dengan menghilangkan jalur Iran menuju senjata nuklir, kata Gottheimer merujuk RUU tersebut.
Sementara itu, Trump yang melakukan panggilan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis (3/7) waktu setempat mengatakan tidak membuat kemajuan apa pun perihal konflik Iran-Israel. “Kami membicarakan banyak hal, termasuk Iran, dan kami sama sekali tidak membuat kemajuan,” tuturnya seperti dilansir Associated Press.
Di sisi lain, ajudan presiden Rusia Yury Ushakov menyebut bahwa selama panggilan telepon yang berlangsung sekitar satu jam tersebut, Putin memastikan Moskow tidak berpihak dalam konflik Iran-Israel. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO