Buka konten ini
Selayaknya karya seni, ke-50 memedi peserta festival di Sleman akan dipamerkan sampai sebulan ke depan dan yang berminat bisa membelinya. Terbuat dari barang bekas seperti plastik, tali, atau botol.
DI persawahan Pakembinangun, Sleman, Yogyakarta, para memedi sawah tak hanya punya tugas domestik untuk mengusir burung. Tapi, juga membawa pesan internasional: dukungan untuk Palestina.
Total ada 50 memedi sawah dalam Festival Memedi Sawah yang diselenggarakan Yayasan Kalimasada di persawahan yang masuk wilayah Kapanewon Pakem itu. Dan, selayaknya karya seni, ada beragam pesan yang disampaikan.
”Pada dasarnya ini kolase, jadi menunjukkan barang bekas punya nilai seni dan ekonomi juga,” kata Artha Pararta Dharma, pendiri Yayasan Kalimasada selaku penyelenggara Festival Memedi Sawah di Kalurahan Pakembinangun, Kapanewon Pakem.
Memedi adalah hantu dalam bahasa Jawa. Kehadirannya di sawah untuk mengusir burung pemangsa padi, terutama burung pipit. Tapi, seiring kian susutnya luas sawah, terutama di Jawa, memedi sawah pun semakin jarang dijumpai.
Banyak orang, termasuk yang tinggal di desa, tak lagi akrab dengan sawah, apalagi dengan para memedinya. Padahal, menurut Artha, memedi sawah itu juga bentuk kebudayaan.
”Kalau tidak dibudayakan, nanti memedi sawah ini pasti akan hilang. Kami berupaya mengidupkan budaya yang hampir punah,” katanya kepada Radar Jogja (grup Batam Pos) di lokasi festival, Minggu (29/6) lalu.
Ke-50 karya tersebut akan dipamerkan sampai sebulan ke depan. Festival tersebut juga direncanakan menjadi agenda rutin tahunan.
Proses Pembuatan
Seluruh memedi yang ditampilkan di Pakembinangun terbuat dari barang bekas. Ada yang menggunakan plastik, tali, hingga botol.
Proses pembuatannya tergantung masing-masing seniman. Bisa memakan waktu dua jam hingga berhari-hari. Pembuatnya sendiri berasal dari berbagai kelompok umur, dari usia 5 tahun hingga 62 tahun.
Para peserta bebas berkreasi, juga bebas menyampaikan pesan lewat karya mereka. ”Memedi sawah ini dilombakan. Untuk pesertanya dari seluruh Yogyakarta dan nanti akan memperebutkan trofi bergilir,” kata Artha.
Apabila ada yang berminat, karya-karya memedi tersebut juga bisa dijual. ”Rata-rata mereka (para seniman yang berpartisipasi) ini para resi, tapi ekonominya sangat rendah sampai harus ada nyam-bi jadi ojol,” terangnya.
Di Yogyakarta, festival serupa juga dihelat di kawasan lain. Misalnya, di Putat, Patuk, Gunungkidul, dan di Desa Wisata Candran, Kebonagung, Imogiri, Bantul.
Pada festival yang di Putat edisi 2023, Ketua Panitia Kemiran mengatakan, acara tersebut memiliki dua tujuan dasar. Pertama, bernostalgia dengan masa lalu, kedua, merespons perkembangan pariwisata agar efek dominonya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dengan menghelat festival, kata Kemiran, generasi sekarang jadi memahami keterkaitan antara memedi sawah dengan hama burung pipit dan sejenisnya. ”Karena itu, kebanyakan bentuk memedi sawah menyerupai wujud manusia,” katanya kepada Radar Jogja ketika itu.
Daya Tarik Wisata
Artha juga berharap, dengan adanya lomba memedi sawah, harapannya setiap sawah kembali memiliki memedi sawah. Dan, seperti yang disampaikan Kemiran dua tahun lalu, juga bisa jadi daya tarik wisata baru di Yogyakarta.
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, yang turut hadir juga mengapresiasi festival tersebut. Dia menyebut Pemerintah Kabupaten Sleman akan terus memberikan dorongan dan bantuan yang diperlukan.
”Saya seneng kalau ada komunitas yang melestarikan kebudayaan,” katanya. (***)
Laporan: Delima Purnamasari
Editor: RYAN AGUNG