Buka konten ini
TEL AVIV (BP) – Setelah mengklaim berhasil membuat Israel dan Iran menyepakati gencatan senjata, kini Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump optimistis bisa melakukannya pula di Jalur Gaza, Palestina. Rabu (2/7), dia mengumumkan bahwa Israel telah menyetujui persyaratan yang diperlukan untuk gencatan senjata selama 60 hari.
Dilansir dari BBC, lewat unggahan di Truth Social, Trump mengatakan, AS akan bekerja sama dengan semua pihak untuk mengakhiri perang. Qatar dan Mesir, yang telah bekerja keras untuk membantu mewujudkan perdamaian, akan menyampaikan usulan akhir ini.
“Saya berharap Hamas menerima kesepakatan ini,” tulis Trump dalam Truth Social.
Israel belum mengonfirmasi ucapan Trump. Sementara itu, petinggi Hamas Taher al-Nunu mengatakan kepada BBC bahwa pihaknya terbuka terhadap kesepakatan asalkan Israel benar-benar mengakhiri agresi mereka.
“Hamas siap menyetujui usulan apa pun jika persyaratan untuk mengakhiri perang benar-benar terpenuhi atau jika persyaratan tersebut mengarah pada berakhirnya perang sepenuhnya,” katanya.
Sebuah jajak pendapat yang dimuat salah surat kabar Israel baru-baru ini menunjukkan bahwa mayoritas warga Israel ingin perang berakhir. Survei dari Institut Demokrasi Israel itu juga menunjukkan bahwa sebagian besar warga Negeri Yahudi itu masih tidak percaya kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Netanyahu dijadwalkan mengunjungi Gedung Putih pada Senin (7/7) pekan depan. Kunjungan tersebut dilakukan di tengah tekanan internasional dan domestik yang kian memunca. Baik terkait masa depan perang di Gaza serta hubungan keamanan regional, termasuk dengan Iran.
Tekanan Domestik
Mengutip CNN, di dalam negeri Netanyahu mendapatkan tekanan keras dari faksi sayap kanan dalam koalisi pemerintah. Mereka menuntut kampanye militer ditingkatkan hingga Hamas dihancurkan sepenuhnya.
“Tidak ada mitra, tidak ada mediator. Hanya penghancuran Hamas,” kata Menteri Keuangan, Bezalel Smotrich, yang berasal dari faksi tersebut.
Sebaliknya, sejumlah menteri lainnya mendesak fokus pada pembebasan 50 sandera yang tersisa di Gaza. Menteri Kesejahteraan Ya akov Margi menyebut, negosiasi harus dipertimbangkan.
“Segala hal harus dibicarakan. Bukan karena kelemahan, melainkan karena kekuatan,” ujarnya.(*)
Netanyahu sudah memberi sinyal perubahan sikap. Setelah sebelumnya menekankan penghancuran Hamas sebagai tujuan utama, dalam beberapa hari terakhir dia menyoroti pentingnya membebaskan para sandera.
Selain itu, dia menyebut bahwa operasi militer terhadap Iran telah membuka peluang baru. Ini menyiratkan bahwa pencapaian terhadap Iran dan Hizbullah bisa dimanfaatkan untuk mendorong kesepakatan regional.
Operasi militer Israel terhadap target-target strategis Iran dalam beberapa pekan terakhir meningkatkan ketegangan kawasan. Ini sekaligus menjadi kartu diplomasi yang akan dibawa Netanyahu dalam pertemuan dengan Trump. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO