Buka konten ini
PARIS (BP) – Eropa kembali dikepung gelombang panas ekstrem. Di Prancis, lebih dari 1.350 sekolah ditutup, Selasa (1/7). Lantai teratas Menara Eiffel pun tak bisa dikunjungi. Semua karena suhu yang melonjak jauh dari batas normal, memicu peringatan kesehatan di berbagai penjuru benua.
Di Laut Balearic, Spanyol, suhu air laut mencapai rekor 30 derajat Celsiusenam derajat lebih tinggi dari biasanya untuk waktu yang sama setiap tahun. Dilansir dari channelnewsasia.com, badan meteorologi Spanyol, Aemet, menyebut fenomena heat dome sebagai penyebabnya: udara panas terperangkap di atas atmosfer Eropa, menciptakan cawan panas raksasa.
Eropa kini disebut sebagai benua yang paling cepat memanas di dunia. Menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus dari Uni Eropa, suhu rata-rata di kawasan ini meningkat dua kali lebih cepat dari rata-rata global. Konsekuensinya, gelombang panas datang lebih awal dan bertahan lebih lama dari sebelumnya.
Prancis menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Puncak suhu diperkirakan terjadi pada Selasa, dengan angka mencapai 40 hingga 41 derajat Celsius di sejumlah wilayah, dan antara 36 hingga 39 derajat di sebagian besar wilayah lainnya, menurut Meteo France. Sebanyak 16 departemen berada dalam siaga tertinggi, dengan 68 lainnya dalam status siaga kedua.
Kementerian Pendidikan Prancis mencatat lonjakan drastis sekolah yang harus ditutup. Bila sehari sebelumnya hanya 200 sekolah, kini melonjak menjadi 1.350 yang menutup kegiatan belajar secara penuh atau sebagian. Otoritas juga menutup akses ke lantai tertinggi Menara Eiffel pada Selasa dan Rabu, seraya mengimbau para wisatawan agar memperbanyak konsumsi air putih.
Panas ekstrem juga mengancam sektor pertanian. Di saat para petani Prancisnegara penghasil biji-bijian terbesar di Uni Eropamemulai panen, risiko kebakaran lahan meningkat tajam. Di wilayah Indre, Prancis tengah, otoritas memberlakukan larangan aktivitas pertanian di lapangan antara pukul 14.00 hingga 18.00, setelah serangkaian kebakaran terjadi sejak akhir Juni. Beberapa petani memilih bekerja malam demi menghindari suhu terik siang hari.
Peringatan Kesehatan dan Ekologis
Panas yang terus menggila bukan hanya membahayakan manusia. Sejumlah ilmuwan memperingatkan dampaknya terhadap keanekaragaman hayati. Di masa lalu, kita melihat kematian massal spesies invertebrata, kerusakan padang lamun, dan wabah penyakit di peternakan kerang, kata Kathryn Smith, ilmuwan dari Asosiasi Biologi Kelautan Inggris. Kemungkinan besar kejadian serupa akan terulang kembali. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO