Buka konten ini
TEHERAN (BP) – Serangan udara Israel di Evin Prison Iran telah menewaskan 71 orang. Pernyataan itu disampaikan Badan Peradilan Iran.
”Menurut angka resmi, 71 orang tewas dalam serangan terhadap Penjara Evin,” kata juru bicara badan peradilan Asghar Jahangir dilansir dari Aljazeera, Minggu (29/6).
Israel sebelumnya menyerang penjara untuk menahan para tahanan politik dan warga negara asing itu pada Senin (23/6) pekan lalu. Penjara itu berada di Teheran Utara yang dikenal dengan penjagaan sangat ketat.
Serangan itu menghancurkan sebagian gedung administrasi di Evin. Ruang medis dan ruang besuk tahanan menjadi sasaran. Menurut Jahangir, para korban di Evin termasuk staf administrasi, penjaga, tahanan dan kerabat yang berkunjung serta orang-orang yang tinggal di dekatnya.
Narapidana di Evin termasuk peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi dan beberapa warga negara Prancis serta warga negara asing lainnya.
Iran Bakal Produksi Uranium
Tak hanya itu, Iran diprediksi akan memproduksi uranium dalam beberapa bulan mendatang. Serangan Amerika Serikat (AS) di tiga fasilitas nuklir beberapa waktu lalu tidak berdampak besar bagi negara tersebut. Pernyataan itu disampaikan Kepala pengawas nuklir (IAEA) PBB Rafael Grossi.
”Mereka dapat memiliki, Anda tahu, dalam hitungan bulan, saya katakan, beberapa kaskade sentrifus berputar dan menghasilkan uranium yang diperkaya, atau kurang dari itu,” kata Grossi dilansir dari CBC News, Sabtu (28/6).
Grossi mengatakan, sebagian cadangan uranium Iran yang diperkaya mungkin telah dipindahkan sebelum serangan AS. Namun, dia tidak mengetahui apakah uranium yang direlokasi sebelum serangan AS seluruhnya sebanyak 408,6 kilogram atau hanya sebagian.
“Jadi beberapa bisa saja hancur sebagai bagian dari serangan, tetapi beberapa bisa saja dipindahkan,” ujarnya. Menurut Grossi, persediaan uranium Iran jika dimurnikan lebih lanjut, dapat menghasilkan lebih dari sembilan bom nuklir.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump meragukan klaim Grossi. ”Ini (memindah-kan uranium) hal yang sangat sulit dilakukan, ditambah lagi kami tidak memberi banyak pemberitahuan. Mereka tidak melakukan apa pun,” kata Trump dilansir dari The Guardian.
AS sebelumnya menyerang tiga fasilitas nuklir Iran, yakni Natansz, Fordo dan Isfahan pada Minggu (22/6). Menteri luar negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa tingkat kerusakan pada situs nuklir itu cukup serius.
Tetapi, pernyataan intelejen Eropa soal kesia-siaan serangan Amerika ke pusat pengayaan nuklir Fordo, Iran, mungkin akan kembali membuat telinga Donald Trump merah. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat itu sempat marah karena intelejennya menyebut serangan itu tidak memberikan dampak signifikan.
Dilansir dari Euronews, penilaian awal intelejen Eropa menduga persediaan uranium Iran sebagian besar masih utuh. Salah satu pejabat Eropa yang enggan disebut namanya menyatakan Fordo bukan penyimpanan uranium Iran. Sebab sebelum serangan Amerika pada Minggu lalu, sebagian besar uraniumnya sudah dipindahkan.
Perlu diketahui, Iran diprediksi punya 408,6 kilogram uranium. Jumlah yang cukup untuk memproduksi sekitar sembilan bom nuklir. Namun bagaimana nasibnya kini?
Tembakan bom Amerika ke Fordo, Natanz, dan Isfahan diklaim Trump telah membuat cadangan uranium Iran tidak sebanyak sebelumnya. Namun, laporan intelijen awal AS yang bocor sehari setelahnya menyebutkan bahwa meskipun terjadi kerusakan signifikan, kehancuran total belum tercapai.
Dilansir dari France24, laporan citra satelit menunjukkan adanya aktivitas mencurigakan di sekitar fasilitas Fordo. Keanehan lainnya yang disebutkan Maxar Technologies adalah kehadiran truk dan buldoser beberapa hari sebelum serangan.
Menurut Maxar Technologies, pintu masuk ke kompleks bawah tanah tampak ditutup rapat menggunakan tanah. Analis menduga, Iran mungkin menggunakan kesempatan itu untuk menyembunyikan cadangan uraniumnya.
“Jika benar cadangan itu telah dipindahkan ke tempat tersembunyi, maka pemantauan dan verifikasi oleh komunitas internasional akan menjadi sangat sulit,” ujar Ludovica Castelli dari Istituto Affari Internazionali.
Walaupun AS dan Israel mengklaim telah menghantam fasilitas pengayaan tersebut, tidak ada bukti kuat bahwa cadangan uranium di dalamnya ikut hancur. Direktur IAEA Rafael Grossi mengatakan bahwa sentrifus di Fordo kini tidak berfungsi. Namun, masih ada kemungkinan Iran memiliki kapasitas pengayaan di lokasi lain yang belum terdeteksi, seperti kompleks bawah tanah dekat Natanz.
Pakar nuklir Hans-Jakob Schindler memperingatkan bahwa meski fasilitas rusak, pengetahuan ilmuwan Iran tetap utuh. “Anda tidak bisa mengebom pengetahuan,” katanya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG