Buka konten ini
Bermodal Rp10 juta dari tabungan pekerjaan sebelumnya dan sepasang tangan terampil, Riyadh Fhadillah membangun gerai makanan kaki lima dari kayu jati Belanda.
Dia mengerjakan sendiri desain hingga konstruksi. Kini, dari tangan yang sama, lahirlah Urban Design Borneo, perusahaan rancang bangun yang omzetnya menembus Rp6 miliar setahun. USAHA ini ia jalankan bersama istri, Yuliana Dwi Purwanti. Keduanya sama-sama arsitek, alumni Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) yang melanjutkan studi ke luar daerah. Yuliana ke Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung, sementara Riyadh ke Institut Teknologi Nasional Malang.
“Waktu itu Riyadh benar-benar mulai dari nol. Jadi tukang, jadi mandor, nyari klien sendiri,” kenang Yuliana. Perempuan berusia kepala tiga ini kini memegang peran utama di divisi desain, sementara sang suami fokus di konstruksi.
Setelah menikah pada 2018, Yuliana memutuskan pulang ke Samarinda meninggalkan karier arsiteknya di Jakarta yang sempat membawanya menangani proyek besar seperti Transmart Surabaya dan Masjid Islamic Center Medan. Di Samarinda ia sempat mencoba berjualan makanan, namun gagal.
“Akhirnya kami kembali ke dunia yang kami kuasai: arsitektur,” ujarnya.
Urban Design Borneo resmi berbadan hukum pada 2021.
Sejak itu, keduanya membangun bisnis dari mulut ke mulut, memperluas jaringan dan menambah karyawan. Saat ini, mereka mempekerjakan tujuh orang staf tetap, dengan klien yang terus berdatangan.
Ragam proyek mereka cukup luas mulai dari rumah tinggal, kafe, kantor hingga hotel. Tak hanya fokus pada desain visual, Yuliana menekankan bahwa setiap proyek harus efisien energi dan ramah lingkungan.
“Kami suka bangun sistem di dalam bangunan,” katanya.
Salah satu karya yang membekas baginya adalah Yukaffe, sebuah kafe di Jalan DI Panjaitan, Samarinda. Sang pemilik meminta desain ruang terbuka yang tetap sejuk tanpa pendingin udara, tapi juga tak basah kala hujan. Yuliana tak buru-buru menggambar. Ia duduk termenung di lokasi, mengamati arah matahari dan angin. Hingga kenangan masa kecilnya membawanya pada ide yakni jendela nako.
“Jendela nako zaman dulu itu sederhana tapi cerdas. Saya pikir, kenapa tidak dibikin versi raksasa?” kata Yuliana. Maka lahirlah sistem ventilasi yang bisa buka-tutup otomatis, menyerap angin tapi tetap menahan air hujan.
Solusi semacam itu bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga efisiensi energi. Hampir semua proyek yang digarap Yuliana mengusung prinsip sustainable architecture mulai dari rumah tinggal, kafe, hingga bangunan komersial.
“Kalau udara bisa masuk, kenapa harus pakai AC? Apalagi untuk kafe, biaya listrik bisa jadi beban besar,” ujarnya.
Di proyek lain, ia bahkan pernah menciptakan sistem atap yang bisa membuka dan menutup otomatis mengikuti cuaca. Bagi Yuliana, teknologi dan tradisi tak harus bertentangan, asal dipadukan dengan bijak.
Satu elemen khas lain dari desainnya adalah gawangan atau bingkai masuk di bagian depan bangunan yang selalu hadir sebagai elemen pembuka. Simpel, tapi membuat bangunan terasa lebih ramah dan mengundang. Proyek-proyek seperti itu menjadi ciri khas perusahaan mereka: urban, modern, dan berkelanjutan.
Untuk jasa desain, harga mereka bervariasi tergantung spesifikasi dan material. Kitchen set mulai dari Rp 2,2 juta per meter, sementara desain rumah berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 200 ribu per meter persegi.
Meski banyak mengerjakan proyek besar, proyek kecil tetap jadi penopang utama arus kas harian. “Dapur tetap ngebul dari pesanan kecil seperti kitchen set atau kamar,” kata Yuliana. Dalam setahun, Urban Design Borneo bisa menangani lima hingga enam proyek besar. Pendapatan mereka pun meroket: dari Rp 2 miliar di tahun pertama, naik menjadi Rp 3 miliar, lalu menyentuh Rp 6 miliar pada 2024.
Yuliana percaya, pertumbuhan ini tak lepas dari meningkatnya literasi desain di masyarakat.
“Sekarang orang makin sadar bahwa desain bukan cuma soal gaya, tapi kenyamanan dan fungsi,” katanya. Dari modal kecil, kerja keras, dan visi arsitektur berkelanjutan, pasangan ini membuktikan bahwa membangun usaha dari nol bukan sekadar mimpi. (***)
Reporter: NASYA RAHAYA
Editor: Alfian Lumban Gaol