Jumat, 3 April 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

4,5 Jam Penentu Hidup Pasien Stroke

dr Wilasari Novantina, SpN, FIN . f. Humas RS Awal Bros Batam untuk Batam Pos

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, terdapat sekitar 12 penderita stroke per 1.000 penduduk Indonesia. Stroke merupakan penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia.

Stroke juga bisa menyerang siapa saja baik tua mapun muda. Orang-orang yang usianya lebih dari 65 tahun paling berisiko terkena stroke. Namun 25 persen stroke terjadi pada orang-orang yang berusia di bawah 65 tahun, termasuk anak-anak.

Dokter spesialis neurologi fellowship intervensi nyeri Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr Wilasari Novantina, SpN, FIN, mengatakan bahwa stroke adalah suatu kondisi dimana terjadinya gangguan fungsi otak atau gangguan fungsi tulang belakang ataupun gangguan fungsi retina mata yang terjadi lebih dari 24 jam.

“Jadi, lebih dari satu hari dan atau bisa juga diakhiri dengan kematian dan penyebabnya itu adalah murni dari gangguan pembuluh darah. Jadi, tidak ada penyebab lainnya selain itu,” katanya.
Stroke dibagi dalam dua jenis yang paling besar: stroke karena sumbatan dan stroke perdarahan.

Stroke sumbatan umumnya di pembuluh darah yang di otak ataupun di sumsum tulang belakang ataupun di mata mengalami pembekuan darah yang menyumbat pembuluh darah tersebut sehingga aliran darah ke bagian otak yang ada di ujungnya mengalami hambatan.
“Nah, karena aliran darah itu terhambat, akhirnya sel-sel otak mengalami kerusakan sampai ke kematian,” jelasnya.

Sedangkan stroke perdarahan karena pecah pembuluh darah. Pembuluh darah di dalam otak bisa mengalami perubahan atau kerusakan karena penyakit tertentu seperti darah tinggi, kencing manis, dan lain lain.

Yang menyebabkan pembuluh darah menjadi lebih rapuh sehingga ketika pembuluh darah itu rapuh ketika tekanan darah meningkat, maka pembuluh darah bisa pecah. “Itulah yang disebut dengan stroke pecah pembuluh darah”.

Umumnya ini terjadi pada orang yang memiliki faktor risiko seperti tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol terus menerus bisa menyebabkan kerusakan pada ujung pembuluh darah, terutama pembuluh darah otak.
“Sebenarnya bisa di mana saja, tapi karena pembuluh darah yang kecil itu banyak di otak dan di jantung, maka umumnya akan terjadi kerusakan di area tersebut,” jelas Wila.
Yang kedua, kencing manis atau diabetes.

Dalam jangka waktu yang lama, pembuluh darah bisa mengalami kerusakan karena kadar gula yang tinggi. Itu juga bisa menyebabkan gangguan dan bisa menyebabkan stroke.
Kemudian yang ketiga, kolesterol tinggi. Penumpukan kolesterol menyebabkan pembuluh darah mengalami gangguan dan juga bisa menjadi tersumbat.

“Satu lagi, kebiasaan merokok. Faktor risiko tadi ditambah dengan kebiasaan merokok, sangat amat bisa lebih meningkatkan lagi resiko untuk terjadinya stroke.”
Oleh karena itu, lanjutnya, kita harus bisa sejak dini mengenali gejala stroke. Gejala yang populer bisa disingkat dengan FAST.

Face atau wajah asimetris atau terasa baal di satu sisi. Kemudian, Arm, yang berupa kelemahan di satu lengan. “Kemudian S atau speech atau bicaranya pelo atau mungkin melantur. Lalu, T (time). Jadi, begitu kita dapat gejala-gejala itu secepatnya segera dibawa ke rumah sakit,” ujarnya.

Menurutnya, semakin cepat memberikan penanganan pada pasien stroke, maka outcome-nya atau hasilnya akan semakin baik. Seperti yang kita tahu, stroke pada umumnya sembuh dengan meninggalkan gejala sisa atau disabilitas.

Nah, dengan tata laksana yang cepat yang segera dan tepat, katanya, bisa meminimalkan terjadinya gejala sisa tersebut. “Sehingga setelah sembuh dari stroke masih bisa beraktivitas seperti sedia kala.”

Untuk membedakan stroke ringan dan stroke kategori berat, di IGD, tenaga medis akan menilai. Wila mengatakan, setiap orang bisa berbeda beda. jika nilainya di bawah 5 termasuk ringan, tapi di atas 5 nanti ada yang sedang dan berat.

Secara kasat mata kita bisa kalau hanya satu gejala, misalnya hanya ngomong cadel saja yang lainnya tidak ada, ini termasuk ringan. Tapi kalaupun ringan ataupun berat, ia mengimbau dibawa ke rumah sakit karena ada yang namanya stroke in evolution. “Awalnya dia masih ringan, mungkin gejalanya masih satu. Kemudian, ketika diabaikan dalam beberapa jam bisa memburuk dengan cepat gitu.

Jadi, sebaiknya kalau memang ada gejala stroke yang tadi kita sampaikan segera dibawa untuk langsung evaluasi oleh dokter yang berkompeten,” kata perempuan berhijab ini.
Di masyarakat beredar bahwa ada beberapa cara penanganan pertama pada pasien stroke seperti pijat atau telinganya ditusuk. Wila menyatakan bahwa itu adalah mitos.”
Jangan sampai tindakan-tindakan yang kita lakukan itu malah justru akan memperburuk strokenya,” tegasnya.

Cara mendiagnosa stroke, dokter akan melakukan wawancara singkat untuk membedakan, benarkah ini stroke atau bukan?
Setelah dokter mendaat kecurigaan, akan lakukan pemeriksaan yang paling awal yaitu CT scan kepala. Ini untuk memastikan adanya stroke dan untuk membedakan apakah stroke karena pecah pembuluh darah atau yang tipe sumbatan.

“Stroke harus segera ditangani. Begitu ada gejala, semakin cepat penanganan, hasilnya akan semakin baik. Jangan ditunda-tunda.”

Apakah Stroke Harus Dioperasi?
Wila mengatakan, untuk tata laksananya tergantung dari jenis strokenya. Stroke sumbatan yang sumbatannya tidak terlalu besar umumnya bisa dilakukan memasukkan obat dari pembuluh darah yang tujuannya untuk meluluhkan bekuan darah yang ada di otak.
Namun, apabila dari obat itu tidak cukup artinya ternyata sumbutannya besar,bisa diperlukan tindakanlainnya.

“Nah, stroke yang pecah pembuluh darah juga berbeda-beda. Masing-masing pasien berbeda sangat tergantung pada kondisi klinis pasien pada saat datang. Ya kondisi kesadaran, besarnya bekuan darah. Kemudian, kondisi tekanan darahnya dan lainnya itu sangat mempengaruhi keputusan untuk melakukan tindakan (operasi).”

“Nah, makanya saya bilang time itu sangat sangat penting ya, karena untuk obat-obat yang dimasukkan, cairan yang tadi saya bilang.
Trombolisis ini, itu kita lakukannya apabila strokenya itu baru berlangsung kurang dari 4 setengah jam.

Karena di atas 4 setengah jam maka pengobatan itu malah justru lebih berisiko ya. Jadi manfaatnya malah justru menurun. Nah makanya kalau menemui gejala-gejala stroke langsung dibawa ke rumah sakit. ”Kalau bisa dalam waktu kurang dari 4 setengah jam,” jelas dia.

Wila menambahkan bahwa perawatan pada pasien pascastroke sangat penting. Seperti perubahan gaya hidup dan pola makan.
“Sebenarnya pada stroke ada dua pencegahan: pencegahan primer dan pencegahan sekunder. Perubahan gaya hidup setelah stroke memang sudah harus ya kalau memang gaya hidupnya di awal sangat beresiko untuk terjadi stroke, tapi bila belum kena stroke ada yang namanya pencegahan primer yaitu dengan makan makanan sehat, kemudian olahraga yang teratur,” tuturnya.

Untuk yang pascastroke, lanjutnya, berhenti merokok dan makan makanan sehat dan olahraga yang teratur.”
Kalau memang kelemahan atau disabilitasnya cukup berat, diperlukan pengobatan lanjutan seperti fisioterapi,” katanya.
Selain itu, kalau sudah pernah kena stroke, akan memerlukan obat-obatan rutin antipembekuan darah untuk mencegah terjadinya stroke berulang. (***)

Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : M Tahang