Buka konten ini
BATAM (BP) – Tragedi ledakan kapal tanker Federal II di galangan kapal PT ASL, Tanjunguncang, Batam, menelan korban jiwa dan luka-luka dari kalangan pekerja dua perusahaan subkontraktor, yakni PT Manchar Marine Batam (MMB) dan PT Ocean Pulse Solution (OPS). Sebanyak sembilan pekerja menjadi korban dalam insiden yang mengguncang dunia perkapalan di Batam itu.
Empat dari sembilan korban meninggal dunia. Mereka adalah Gunawan Sinulingga (MMB), Hermansyah Putra (OPS), Berkat Setiawan Gulo (MMB), dan Janu Arius Silaban (MMB). Jenazah keempatnya sempat disemayamkan di RS Bhayangkara Polda Kepri sebelum diserahkan kepada keluarga.
Gunawan Sinulingga (46), warga Kibing, Batuaji, dikenal sebagai pekerja berpengalaman di PT MMB. Hermansyah Putra (29) berasal dari Tanjunguban, Bintan. Sementara Berkat dan Janu, masing-masing berusia 22 dan 24 tahun, berasal dari Tapanuli Tengah. Ketiganya diketahui sedang bekerja di area bawah kapal saat insiden terjadi.
Selain korban jiwa, lima pekerja lainnya mengalami luka serius hingga ringan. Empat di antaranya menderita luka bakar berat dan kini masih dirawat intensif di RS Graha Hermine dan RS Mutiara Aini, Batam. Mereka adalah Amel Rivensky Gembira Nababan, Benni Silaban, Rekki Harianto Butar Butar, dan Upik Abdul Wahid.
Satu korban lainnya, Alatas Manopan Silaban, mengalami luka bakar ringan dan telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Seluruh korban merupakan tenaga kerja aktif dari MMB dan OPS yang saat itu ditugaskan mengerjakan bagian bawah kapal tanker Federal II.
Insiden ini memicu reaksi keras dari kalangan pekerja galangan kapal. Mereka mendesak agar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) benar-benar ditegakkan di lingkungan industri galangan.
Imran, pekerja galangan berpengalaman, menilai banyak perusahaan hanya ketat dalam pemeriksaan di pintu masuk, tetapi abai terhadap pengawasan di area kerja.
“Pernah saya kerja di subkon ASL, disuruh masuk ke ruangan pengap tanpa blower dan lampu penerangan yang cukup. Saya keluar. Ini bukan soal uang, tapi nyawa,” ujar Imran.
Hal serupa disampaikan Hendra, pekerja aktif di salah satu galangan di Tanjunguncang. Ia menyoroti lemahnya pemeriksaan awal sebelum pengerjaan kapal dilakukan. Padahal, menurutnya, prosedur operasi standar (SOP) mengharuskan tangki dikosongkan dari minyak dan gas beracun sebelum pekerja masuk.
“Itu kapal Federal II katanya masih ada minyak mentah di dalam. Kalau sudah begitu, apalagi kerja pakai api, ya jelas bisa meledak,” tegasnya.
Dari informasi yang beredar di kalangan pekerja, Federal II bukanlah kapal pengangkut minyak sawit, melainkan kapal tanker yang mengangkut minyak mentah. Dugaan sementara menyebutkan kebakaran disebabkan oleh uap dan sisa minyak mentah di dasar kapal.
Pihak PT ASL maupun kedua perusahaan subkontraktor belum memberikan pernyataan resmi terkait kejadian ini. Hingga kini, belum ada kejelasan mengenai langkah evaluasi atau pertanggungjawaban terhadap para korban.
Kapolsek Batuaji, AKP Raden Bimo Dwi Lambang, menyatakan penanganan kasus ini telah dilimpahkan ke Polresta Barelang. Sejumlah saksi telah diperiksa untuk mendalami penyebab pasti ledakan dan kemungkinan adanya unsur kelalaian. Penyelidikan terus berlanjut.
Sementara itu, Kapolresta Barelang, Kombes Zaenal Arifin, mengatakan pihaknya tengah menyelidiki penyebab kebakaran kapal MT Federal II. Selain melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi juga telah meminta keterangan dari tiga orang saksi, yang terdiri atas pekerja dan pihak perusahaan.
“Ada tiga saksi yang kami mintai keterangannya. Tapi ini masih sebatas informasi,” ujarnya.
Zaenal menjelaskan bahwa olah TKP dilakukan oleh Inafis Polresta Barelang bersama Tim Puslabfor Medan. Proses ini memerlukan waktu panjang karena harus melalui pemeriksaan ilmiah.
“Untuk kepastiannya (penyebab kebakaran) harus melalui uji ilmiah atau scientific investigation,” katanya.
Ia menyebutkan, kebakaran terjadi saat kapal tengah dalam proses docking atau pemeliharaan. Api tiba-tiba muncul dan menyambar sembilan orang pekerja. Empat tewas, empat lainnya mengalami luka berat, dan satu luka ringan. “Tadi malam kami fokus mengevakuasi korban dan memadamkan api. Para korban dirawat di dua rumah sakit,” ujarnya.
Terkait dugaan kelalaian dalam peristiwa ini, Zaenal menyatakan masih terlalu dini untuk disimpulkan.
“Semua kemungkinan ada, tapi saya belum bisa menyimpulkan adanya kelalaian,” tutupnya. (*)
Reporter : Eusebius Sara, Yofi Yuhendri
Editor : RYAN AGUNG