Buka konten ini
Fotografi datang ke Guntur Soekarnoputra lewat kamera hadiah kenaikan kelas dari sang bapak. Sang adik, Megawati Soekarnoputri, menilai karya-karyanya merepresentasikan perjalanan sejarah yang banyak ditutupi.

SECARA personal, Soekarno dan Mohammad Hatta dekat. Soekarno-lah yang melamar Siti Rahmiati untuk Hatta. Lamaran diterima dan sejoli itu pun menikah pada 18 November 1945.
Tapi, secara pandangan politik, mereka kerap berada pada kutub yang berbeda. Dari sebelum 17 Agustus 1945 sampai setelah keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Jadi, presiden dan wakil presiden pertama tersebut dekat, tapi juga berjarak. Dan, foto ukuran jumbo karya Guntur Soekarno yang menyambut pengunjung di Ruang A Galeri Nasional, Jakarta, menangkap dengan tepat relasi dua proklamator tersebut.
Kendati duduk berdampingan, keduanya berjarak. Mata Soekarno hampir melirik ke Hatta, namun Hatta melihat ke arah lainnya.
Foto tersebut bagian dari 550 karya fotografi Guntur yang dipamerkan dalam Pameran Gelegar Foto Nusantara 2025 yang berlangsung 7–12 Juni. Termasuk foto Soekarno dan Hatta duduk berdampingan, banyak di antaranya yang belum pernah ditampilkan di publik.
Seperti foto kunjungan kenegaraan Soekarno ke Amerika Serikat dan Eropa, pertemuan dengan kepala negara, juga keseharian hidup di istana. Sebagai anak sulung buah pernikahan Soekarno dengan Ibu Negara Fatmawati, Guntur tentu punya banyak momen untuk mengabadikan sang bapak dari jarak dekat sekali.
”Pameran yang sangat menarik karena merekam peristiwa bersejarah. Semua jejak pendiri bangsa tentunya harus diteruskan,” kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang hadir dalam pembukaan pameran pada Sabtu (7/6) dua pekan lalu.
Mas Tok, sapaan akrab Guntur, mengatakan bahwa dirinya ingin membantu pengumpulan dana dalam rangka Bulan Bung Karno. ”Pertama Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945, kelahiran Bung Karno 6 Juni, dan wafat Bung Karno 21 Juni 1970. Inilah Bulan Bung Karno, saya rasa juga bulannya zodiak bintang Gemini nih,” paparnya, kembali disambut tawa pengunjung.
Dalam konferensi pers, dia mengatakan bahwa dana kemanusiaan tersebut akan diberikan kepada segala profesi yang sedang sakit. Dari politikus, wartawan, buruh, petani, hingga profesi apa pun. ”Jangan dipelintir, ini untuk yang benar-benar sakit. Sakit badannya,” ujar pria 80 tahun itu.
Perkenalan Guntur dengan fotografi dimulai dari hadiah kamera dari sang bapak ketika dia masih duduk di kelas 6 Sekolah Rakyat. Kamera Kodak Baby Box itu hadiah kenaikan kelas.
Kamera tersebut pun menemani hari-harinya belajar memotret. Momen-momen penting sang bapak dan keluarga tak pernah terlewatkan untuk dia abadikan.
Setelah tak lagi di ITB, dia semakin menggeluti fotografi. Hobi tersebut lantas dilanjutkan sambil menulis, bahkan sempat menjadi wartawan di majalah Sonata.
Dia juga menggunakan kamera lain seperti Olympus MD3 dan Hasselblad yang merupakan hadiah dari Kedutaan Uni Soviet. Guntur sudah beberapa kali menghelat pameran. Dan, dalam pameran di Galeri Nasional, ada juga sejumlah kameranya yang dipamerkan.
Megawati juga hadir dalam pembukaan pameran sang kakak. Begitu pula mantan Wakil Presiden Tri Sutrisno, Ketua Mahkamah Konstitusi Arif Hidayat, serta mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.
Bagi Megawati, salah satu bentuk komunikasi publik adalah fotografi. ”Sebenarnya (karya-karya foto) ini sebuah perjalanan sejarah yang banyak tertutupi,” ujarnya.
Basuki Tjahaja Purnama juga menganggap pameran itu membantu siapa saja melihat perkembangan politik dan masyarakat. ”Di pameran ini bisa dilihat bagaimana dunia sangat kagum dengan Bung Karno. Dapat juga dilihat bagaimana perkembangan pakaian masyarakat Indonesia terwakili lewat busana para artis yang difoto Mas Tok,” katanya.
Sementara itu, Ganjar menuturkan bahwa sejak awal persiapan pameran sudah diajak bicara Mas Tok. ”Saya bilang ke Mas Tok, harus Juni karena Bulan Bung Karno,” paparnya.
Dia juga membeberkan bahwa sebenarnya dalam pameran tersebut ada rahasia sejarah yang belum diketahui. ”Karena itulah saya datang juga ke sini, mau tahu apa,” tuturnya.
Tapi, entah apa rahasia yang dimaksud. Mungkin Mas Tok perlu menggelar pameran lagi biar rahasia sejarah itu benar-benar diketahui publik. (***)
Laporan: ILHAM WANCOKO
Editor: RYAN AGUNG