Buka konten ini
BATAM (BP) – Menjelang pengumuman hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat SMA dan SMK di Kota Batam pada 28 Juni 2025, ribuan orang tua calon siswa diliputi kecemasan. Mereka berharap anak-anak mereka diterima di sekolah negeri pilihan, terutama karena keterbatasan ekonomi menjadi pertimbangan utama.
Biaya pendidikan di sekolah negeri yang relatif lebih terjangkau dibandingkan sekolah swasta menjadi harapan besar bagi keluarga berpenghasilan terbatas. SPMB tahun ajaran 2025/2026 telah berlangsung pada 11–14 Juni dan kini masih dalam tahap verifikasi serta penilaian.
Sejumlah orang tua di wilayah Batuaji dan Sagulung, seperti Nirmala dan Anwar, menyampaikan harapan agar anak mereka diterima di sekolah negeri. “Anak saya nilainya juga bagus. Semoga bisa lolos, karena saya tidak sanggup kalau harus masuk sekolah swasta,” ujar Nirmala yang mendaftarkan anaknya ke SMKN 5 Batam.
Namun, harapan para orang tua ini dihadapkan pada kenyataan pahit. Jumlah peserta SPMB jauh melebihi daya tampung sekolah negeri di Batam. Hingga kini, Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) belum menetapkan penambahan kuota baru dan masih mengacu pada petunjuk teknis (juknis) yang berlaku.
Menurut Kepala Disdik Kepri Cabang Batam, Kasdianto, sistem seleksi tahun ini dirancang untuk pemerataan. Peserta yang tidak diterima di sekolah pilihan karena kuota penuh akan diarahkan ke sekolah lain yang masih tersedia.
“Banyak sekolah favorit memang sudah penuh, tapi sekolah seperti SMAN 24 dan SMAN 29 masih kekurangan siswa. Sistem akan otomatis mengarahkan ke sana,” ujarnya.
Namun, bagi peserta yang tidak diterima di seluruh pilihan sekolah, belum ada jaminan dapat masuk melalui jalur tambahan. “Kami masih berpatokan pada juknis yang ada. Belum ada kebijakan baru terkait kuota tambahan,” jelas Kasdianto. Hal ini membuat banyak orang tua makin cemas, terutama mereka yang benar-benar menggantungkan harapan pada sekolah negeri.
Data resmi mencatat, jumlah lulusan SMP tahun ini mencapai lebih dari 20 ribu siswa. Sementara itu, kursi yang tersedia di SMA negeri hanya sekitar 9.636 yang tersebar di 29 sekolah, sedangkan SMK negeri hanya mampu menampung sekitar 7.810 siswa dari 11 sekolah. Artinya, ribuan siswa diperkirakan tidak terakomodasi di sekolah negeri tahun ini.
Mekanisme seleksi dalam SPMB terbagi dalam tiga jalur utama: prestasi, afirmasi, dan domisili. Jalur prestasi menjadi favorit karena memberikan peluang bagi siswa berprestasi, baik akademik maupun nonakademik, untuk bersaing di tingkat lokal maupun nasional. Sistem seleksi jalur prestasi menggunakan kombinasi nilai rapor (70 persen) dan nilai prestasi (30 persen).
Disdik Kepri menyebut telah mengusulkan penyesuaian kuota dan pembaruan data Dapodik ke pusat agar mencerminkan kondisi sebenarnya di Batam. Namun, hingga saat ini, juknis lama masih digunakan sebagai acuan pelaksanaan SPMB.
Hasil seleksi akan diumumkan pada 28 Juni 2025, sementara proses daftar ulang dijadwalkan pada 30 Juni hingga 2 Juli mendatang.
Ketidakpastian ini membuat banyak orang tua hanya bisa berharap dan berdoa. “Kami hanya bisa pasrah. Semoga anak kami bisa masuk sekolah negeri, karena kami benar-benar tidak mampu kalau harus ke swasta,” ujar Anwar lirih.
Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret, baik dengan menambah kapasitas sekolah maupun menyediakan solusi pendidikan alternatif bagi siswa yang tidak terakomodasi. (*)
Reporter : Eusebius Sara
Editor : RYAN AGUNG