Buka konten ini
NONGSA (BP) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim Batam mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi dalam beberapa hari ke depan. Selain hujan dan angin kencang, banjir rob juga berpotensi melanda wilayah pesisir di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan, menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih mungkin terjadi hingga sepekan ke depan, terutama pada siang dan sore hari. Hujan bersifat lokal dan sporadis, namun berpotensi disertai angin kencang.
“Hujan ini disebabkan oleh pertumbuhan awan konvektif, khususnya Comulonimbus (Cb), yang biasanya berwarna gelap dan menjulang ke atas. Awan ini berpotensi menimbulkan hujan lebat, petir, dan angin kencang sesaat,” ujar Ramlan, Senin (23/6).
Terkait angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di Kota Batam pada Senin pagi, ia menegaskan bahwa fenomena itu bersifat sementara, namun tetap berisiko bagi aktivitas luar ruangan.
“Masyarakat diimbau untuk berhati-hati, terutama saat melihat awan gelap menggumpal di langit. Lebih baik menunda aktivitas di luar ruangan,” tambahnya.
Selain hujan dan angin, masyarakat pesisir juga diminta waspada terhadap potensi banjir rob. Fenomena ini disebabkan oleh naiknya permukaan air laut akibat gaya tarik bulan dan bumi, yang bisa diperparah jika terjadi hujan dengan durasi lama.
“Jika banjir rob terjadi bersamaan dengan hujan deras, maka genangan air bisa lebih tinggi dan meluas. Wilayah seperti Batuampar, Sagulung, Tanjungpinang, dan kawasan pesisir lainnya perlu lebih siaga,” ujar Ramlan.
BMKG juga telah mengeluarkan peringatan dini terkait kondisi gelombang laut yang berlaku mulai 24 hingga 27 Juni 2025. Dalam periode tersebut, tinggi gelombang di Perairan Kepulauan Tambelan diprediksi mencapai 1,25 hingga 2,5 meter.
Pola angin di wilayah perairan Kepri diprakirakan bertiup dari arah selatan hingga barat dengan kecepatan 4 hingga 30 knot. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran, terutama kapal kecil dan nelayan tradisional.
“Perahu nelayan berisiko jika angin sudah mencapai 15 knot dan gelombang 1,25 meter. Untuk kapal tongkang, risiko muncul saat angin mencapai 16 knot dan gelombang 1,5 meter,” terangnya.
Karena itu, BMKG menyarankan agar aktivitas pelayaran, khususnya bagi kapal kecil, ditunda sementara hingga cuaca kembali aman. Nelayan juga diminta rutin memantau informasi cuaca sebelum melaut.
Sementara itu, untuk kondisi cuaca pada Selasa (24/6), kelembapan udara di lapisan atas wilayah Kepri diperkirakan cenderung kering. Meski peluang terbentuknya awan hujan tidak terlalu tinggi, namun hujan ringan masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah.
“Masyarakat tetap perlu waspada terhadap petir, angin kencang, dan genangan air. Jangan berteduh di bawah pohon atau tiang listrik saat hujan deras disertai petir,” pungkas Ramlan. (*)
Reporter : Yashinta
Editor : RATNA IRTATIK