Buka konten ini
KUALA LUMPUR (BP) – Gelombang kekerasan bersenjata mengguncang sejumlah kota di Malaysia dalam dua pekan terakhir. Tiga insiden penembakan terjadi nyaris beruntun, menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai dua lainnya. Polisi menduga kuat rangkaian serangan ini berkaitan dengan konflik antarkelompok yang terafiliasi organisasi rahasia.
Dilansir dari channelnewsasia.com, kekerasan berawal hari Jumat (13/6) malam lalu. Dua pria bersenjata memberondong sekelompok orang yang tengah makan malam di sebuah restoran di Jalan Tun Sambanthan, kawasan Brickfields, Kuala Lumpur. Tujuh orang menjadi sasaran tembakan. Seorang pria tewas di tempat, dua lainnya terluka. Ketiganya berusia antara 30 hingga 50 tahun.
Tiga hari berselang, lima orang ditangkap di Ibu Kota sehubungan dengan penembakan tersebut. Namun, menurut Wakil Kepala Polisi Kuala Lumpur, Mohamed Usuf Jan Mohamad, kelima orang itu telah dibebaskan dengan jaminan setelah menjalani pemeriksaan. “Penyelidikan masih berlangsung,” ujar Usuf, Minggu (22/6), dikutip media lokal.
Belum sempat publik tenang, aksi serupa terjadi di Cheras, 17 Juni. Dua pria tewas ditembak di depan sebuah pusat perbelanjaan. Para pelaku melarikan diri menggunakan mobil dan hingga kini belum tertangkap. “Belum ada tersangka yang ditahan, namun penyelidikan terus kami lakukan untuk mengidentifikasi pelaku,” ujar Usuf.
Kepolisian mencurigai keterkaitan antara kedua insiden. “Dari hasil pemeriksaan awal, insiden di Brickfields dan Cheras sama-sama melibatkan konflik antarkelompok yang terindikasi punya afiliasi dengan organisasi rahasia,” katanya. Polisi telah memeriksa 18 saksi dalam kasus Brickfields, dan 20 saksi lain untuk kasus Cheras.
Rentetan kekerasan belum usai. Jumat (21/6) lalu, seorang pria 46 tahun ditemukan tewas tertembak di dalam mobilnya di depan sebuah toko sepeda motor di Taman Meru Utama, Klang, Selangor. (*)