Buka konten ini
TEHERAN (BP) – Sesuai nama operasi militer mereka, True Promise 2, Iran benar-benar memenuhi janji: kalau diserang, mereka akan menyerang balik. Sekitar 5–6 jam setelah Amerika Serikat (AS) menggempur tiga situs nuklir mereka di Fordo, Natanz, dan Isfahan, negeri yang beribu kota di Teheran itu ganti menembakkan sekitar 30 rudal ke beberapa kota di Israel.
Sementara tak ada kebocoran radioaktif di tiga situs yang diserang AS, juga tak ada korban jiwa sebagaimana laporan Bulan Sabit Merah Iran, 23 orang dilaporkan terluka di Israel akibat serangan kemarin (22/6) pagi sekitar pukul 07.40 waktu setempat itu.
“Rumah-rumah hancur kena serangan rudal,” kata Ron Hudlai, Wali Kota Tel Aviv seperti dilansir AFP, Minggu (22/6).
Sebagaimana digambarkan AFP, baik di Haifa maupun di Tel Aviv dan sekitarnya, jalanan dipenuhi puing dan berbagai bangunan apartemen hancur, dan para petugas penyelamat menelisik di antara reruntuhan kalau-kalau ada korban.
“Rumah kami hancur lebur, tak ada yang tersisa,” kata Aviad Chernikovsky, seorang warga Ramat Aviv, kota di pinggiran Tel Aviv.
Tel Aviv dan Haifa dua kota penting Israel. Tel Aviv ibu kota, sedangkan Haifa tempat kilang minyak terbesar Israel berada.
Sejak mereka diserang Israel, Jumat (13/6), Iran tak pernah putus menyerang balik Israel. Dikutip dari AFP berdasarkan data militer I-srael, Iron Dome, dan Arrow 3, sistem pertahanan udara Israel, sudah dibobol sekitar 450 rudal dan 1.000 drone Iran.
Enam Bom
Sementara itu, ada enam bom penghancur bunker dan 30 rudal Tomahawk yang ditembakkan AS ke tiga situs nuklir Iran. Negeri Paman Sam itu menerjunkan tujuh pesawat pengebom B-2.
Trump pun langsung meminta agar Iran berdamai dengan Israel secepatnya. Presiden yang juga pebisnis itu menyebut, jika tidak segera menyerah, bakal ada serangan yang jauh lebih besar. “Ingat, ada banyak target (di Iran) yang masih tersisa,” tuturnya.
Tindakan AS itu berarti Trump menjilat ucapannya sendiri. Dua pekan lalu, dia menyatakan tidak akan ikut campur.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tentu saja girang dengan langkah AS tersebut. “Serangan itu akan membawa Timur Tengah ke masa depan yang makmur dan damai,” katanya.
Sebaliknya, Rusia dan Tiongkok mengutuk serangan itu. “Tindakan yang tak bertanggung jawab dan pelanggaran berat hukum internasional.” Demikian bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia.
Sekjen PBB Antonio Guterres juga menyebut, aksi sepihak AS tersebut merupakan eskalasi berbahaya di wilayah yang kondisinya sudah panas.
“Tidak ada solusi militer. Yang dibutuhkan adalah solusi diplomatik,” ujarnya.
Iran juga menepis ancaman AS. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut, kalau serangan tersebut memperlihatkan kalau AS yang berada di balik serangan Israel ke negaranya.
“AS turun tangan langsung setelah melihat ketidakmampuan Israel,” ujarnya.
Senada, Menteri Luar Negeri (Menlu) Seyed Abbas Araghchi juga menganggap serangan itu sebagai pelanggaran hukum internasional yang akan memiliki konsekuensi jangka panjang.
“Amerika Serikat, anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah melakukan pelanggaran berat terhadap Piagam PBB, hukum internasional, dan perjanjian nonproliferasi nuklir dengan menyerang instalasi nuklir damai Iran. Peristiwa pagi ini (kemarin) keterlaluan dan akan memiliki konsekuensi abadi,” katanya.
Dia menambahkan, sesuai dengan Piagam PBB dan ketentuan lainnya, Iran sah untuk membela diri. “Iran memiliki semua pilihan untuk mempertahankan kedaulatan, kepentingan, dan rakyatnya,” tutur Araghchi lewat akun media sosialnya.
Beberapa jam berselang, Araghchi mengungkapkan, akan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin hari ini. Dia berangkat dari Turki karena menghadiri pertemuan puncak Organisasi Kerja Sama Islam. Dia menyebut pertemuan dengan Putin sebagai “konsultasi serius.” (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG