Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran menetapkan status Siaga I menyusul konflik bersenjata yang semakin memanas antara Iran dan Israel. KBRI memastikan akan segera mengevakuasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang bersedia keluar dari Iran.
Pengumuman tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi KBRI Teheran.
Dalam unggahannya, disebutkan bahwa Pemerintah Indonesia telah menetapkan status Siaga I untuk seluruh wilayah Iran. WNI yang ingin dievakuasi akan segera difasilitasi.
“KBRI Tehran akan segera melakukan tindakan evakuasi bagi para WNI yang bersedia,” tulis akun tersebut.
Untuk informasi lebih lanjut, seluruh WNI diminta memantau perkembangan melalui grup WhatsApp komunitas WNI di Iran. Langkah ini diambil pemerintah merespons meningkatnya eskalasi perang antara Iran dan Israel.

Sebelumnya, KBRI Teheran telah mengimbau seluruh WNI untuk menyiapkan run bag berisi barang-barang penting seperti dokumen identitas, salinan paspor, uang tunai, makanan dan minuman, pakaian, serta perlengkapan pribadi lainnya.
WNI juga diminta segera menghubungi hotline KBRI Teheran dan mengakses situs peduliwni.kemlu.go.id untuk registrasi dan pembaruan informasi. Koordinasi intensif antara WNI dan perwakilan Indonesia di Iran terus dilakukan.
Saat ini, tercatat sekitar 380 WNI berada di Iran, sebagian besar tinggal di Tehran. Menyikapi situasi yang semakin genting, Komisi I DPR RI mendorong pemerintah mempercepat evakuasi.
Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PKB, Syamsu Rizal, menegaskan bahwa evakuasi harus segera dilakukan, terutama bagi WNI yang berada di wilayah rawan konflik. “Kami prihatin dengan meningkatnya eskalasi konflik di kawasan tersebut. Pemerintah melalui KBRI Tehran harus segera mengambil langkah cepat dan terukur. Setiap detik sangat berharga dalam situasi genting seperti ini,” ujar politisi asal Sulawesi Selatan itu, Kamis (19/6).
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara KBRI, Pemerintah Pusat, dan negara-negara tetangga agar proses evakuasi berjalan aman dan lancar. “Keselamatan dan keamanan WNI harus menjadi prioritas utama. Kami berharap proses evakuasi berjalan lancar dan seluruh WNI dapat kembali dengan selamat,” katanya.
Mengingat wilayah udara Iran tidak kondusif, jalur evakuasi paling memungkinkan dilakukan melalui darat. Syamsu Rizal menegaskan bahwa jalur darat tersebut harus dipastikan aman, serta dilengkapi pengawalan, akomodasi, dan logistik bagi para WNI.
“Negara-negara tetangga juga perlu dilibatkan agar akses lintas batas dapat dibuka secara cepat dan aman,” tegasnya.
Berdampak pada Investasi Dunia
Konflik antara Israel dengan Iran yang tengah memanas dikhawatirkan berdampak pada sektor energi perdagangan hingga investasi nasional dunia, tak terkecuali berdampak pada perekonomian Indonesia. Anggota Komisi XI DPR RI, Charles Meikyansah, meminta pemerintah untuk menyiapkan langkah antisipatif yang terukur dalam menyikapi eskalasi perang di Timur Tengah.
“Kita sangat rentan terhadap dampak global, terutama kenaikan harga minyak dan tekanan terhadap rupiah. Ini bisa memperbesar beban subsidi, memicu inflasi, dan menekan daya beli masyarakat,” kata Charles Meikyansah kepada wartawan, Rabu (18/6).
Sebab, konflik Israel dan Iran kini sudah menjadi perang terbuka. Hal ini setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke lebih dari 12 lokasi strategis di Iran lewat operasi Operation Rising Lion, pada 13 Juni 2025. Serangan itu dibalas oleh Iran, dengan menyerang Operation True Promise III.
Charles berpandangan, ketegangan di Timur Tengah dikhawatirkan dapat mengganggu jalur distribusi minyak seperti Selat Hormuz, yang berdampak langsung pada perekonomian dunia. Menurutnya, Indonesia sebagai negara pengimpor minyak menghadapi risiko kenaikan biaya logistik, tekanan terhadap neraca perdagangan, dan gangguan pada stabilitas fiskal.
Selain itu, ketidakpastian global juga bisa menurunkan minat investasi dan memperlambat ekspansi pelaku usaha. Meski demikian, Charles meyakini Pemerintah mampu menghadapi tekanan global yang ada.
”Saya yakin Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah menyiapkan langkah antisipatif yang terukur dalam menghadapi tantangan ini,” tegasnya.
Karena itu, Charles mengharapkan komunikasi aktif Presiden Prabowo dengan para pemimpin dunia mampu menjembatani ketegangan antara Iran dan Israel. Selain itu, mitigasi yang dilakukan oleh kementerian dan lembaga terkait dapat mengantisipasi dampak perekonomian nasional.
“Tentunya Pemerintah melalui kementerian terkait kita harapkan juga dapat menyiapkan skenario subsidi yang tepat sasaran, menjaga defisit dalam batas aman, dan memberikan kepastian arah kebijakan ekonomi bagi pelaku usaha,” pungkasnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor: RYAN AGUNG