Buka konten ini
Di tengah padatnya ruang publik dalam kota dan kesibukan rutinitas kehidupan sehari-hari, ruang terbuka alami Pantai Gaseng Tanjungpinang, hadir sebagai oase sederhana yang menawarkan kedamaian serta ketenangan hati di akhir pekan.
DI tengah riuhnya Tanjungpinang yang terus tumbuh dan menua, ada secuil ketenangan yang mengendap di ujung Pulau Dompak. Tak jauh dari pusat kota, Pantai Gaseng hadir sebagai sepotong lanskap yang nyaris terlupakan peta pariwisata besar, tetapi justru memikat karena kesederhanaannya.
Jalur menuju pantai ini tidak semulus jalan-jalan ke resor mewah. Namun begitu roda kendaraan berhenti, dan kaki menyentuh pasir putih kecoklatan, suasana berubah. Seperti menjejak halaman pertama dari buku puisi. Udara asin laut menyapa, debur ombak melantunkan irama lirih, dan semilir angin menyisir pelipis dengan lembut.
Pantai Gaseng bukanlah tempat untuk mencari kafe estetik atau permainan air modern. Tak ada banana boat, tak ada live music atau stan kekinian. Namun justru di situlah letak pesonanya. Sebuah ruang alami yang tak berpura-pura menjadi apa pun selain dirinya sendiri. Sebuah tempat di mana langit biru membentang tak terganggu, dan matahari tenggelam dengan malu-malu ke balik cakrawala.
“Anak-anak bisa main pasir sepuasnya, kami bisa duduk santai di bawah pohon, tanpa khawatir soal biaya,” kata Mita, 41 tahun, warga Batu 5, Minggu sore itu. Ia duduk di atas tikar bersama keluarganya, menatap dua anaknya yang sedang menggali pasir dengan ember kecil.
Bagi banyak warga Tanjungpinang, Pantai Gaseng bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah pelarian pendek dari hiruk-pikuk. Tempat untuk healing tanpa harus menempuh perjalanan jauh. Tempat di mana pertemuan keluarga, silaturahmi komunitas, hingga perpisahan sekolah berlangsung dengan cara yang bersahaja, tetapi membekas.
“Saya baru pertama kali ke sini. Suasananya tenang, teduh, dan bersih. Worth it banget untuk acara keluarga,” ujar Firman, 36 tahun, pegawai pemerintah yang datang bersama rombongan sekolah anaknya. Ia mengaku sempat mendengar nama Pantai Gaseng, tapi baru kali ini ia benar-benar menginjakkan kaki di sana.
Gaseng menjadi ruang alternatif bagi warga yang merindukan ruang terbuka alami. Ada pondok-pondok sederhana, musala kecil, tempat bilas, warung makanan rumahan, dan area parkir yang cukup luas. Tidak mewah, tetapi cukup. Dan kadang-kadang, cukup itu justru yang paling dibutuhkan.
Ketika sore tiba, garis pantai ini memantulkan cahaya jingga keemasan. Matahari perlahan jatuh ke laut, meninggalkan jejak siluet pepohonan dan tubuh-tubuh yang masih enggan pulang. “Ini bukan sekadar tempat, tapi juga suasana,” kata Alam, 33 tahun, seorang guru sekolah dasar. Ia rutin membawa muridnya ke sini untuk kegiatan kelas luar. “Cocok untuk anak-anak belajar langsung dari alam,” lanjutnya.
Namun ada pula catatan. Akses menuju pantai masih perlu dibenahi agar lebih ramah bagi semua kalangan. Meski demikian, para pengunjung berharap satu hal tetap dipertahankan, kesederhanaan.
“Kalau nanti dibangun ini-itu, bisa hilang suasana damainya. Biarkan tetap seperti ini, alami dan bersih,” ucap Alam menutup harapannya.
Pantai Gaseng bukan hanya tempat liburan. Ia adalah refleksi. Tentang bagaimana alam memberi ruang untuk bernapas, tentang bagaimana ketenangan kadang tersembunyi di sudut-sudut yang tak banyak disebut. Di tepian Dompak yang sunyi, Tanjungpinang menemukan kembali nadinya. (*)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : GALIH ADI SAPUTRO