Buka konten ini
Setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini akan meninggalkan jejak di masa depan. Seperti halnya menjaga lingkungan—dampaknya tak hanya terasa sekarang, tapi juga menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.
Pagi itu, matahari masih beringsut malu di balik awan ketika derap langkah para relawan mulai menggema di gang-gang sempit Tanjunguma. Di sela aroma laut yang asin dan sisa kehidupan yang melekat pada timbunan sampah, mereka datang membawa semangat baru: membersihkan jejak lalai manusia, dan menyulam harapan dari limbah yang terlupa.
Yusri Ivori Adinata berdiri tegak, tangannya kotor oleh tanah dan plastik yang menempel, tetapi sorot matanya bersih. “Sebagai Mapala, kami bukan hanya penjelajah rimba atau pendaki puncak. Kami penjaga, juga pewaris. Warisan kami bukan gedung megah atau nama besar. Tapi lingkungan yang tetap hidup,” katanya lirih namun tegas.
Aksi bersih-bersih itu bukan sekadar agenda harian. Ia adalah perayaan. Sebuah bentuk syukur yang diwujudkan dalam kerja nyata: memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Laut Sedunia. Di bawah naungan program CSR Tanjunguma Empowerment, PT BatamOn Global Group menggagas kegiatan ini sejak September 2023, menyisir pemukiman padat dan pesisir yang lama dibiarkan menua bersama sampah.
Hari itu, bukan hanya kantong-kantong sampah yang dikumpulkan. Tapi juga cerita. Ada gaun yang diciptakan dari plastik bekas, sabun dari jelantah yang disulap menjadi harum, hingga pelatihan merajut sampah menjadi karya yang tak hanya indah, tapi bernilai.
Di antara para tamu, tampak seorang perempuan paruh baya yang duduk anggun di gazebo pantai. Ia Sri Hartini—biasa dipanggil Tini—seorang ibu rumah tangga yang menjadikan sampah rumah tangga sebagai ladang kreativitasnya. Dari tangannya lahir gantungan kunci, tempat tisu, bunga plastik, bahkan ecoprint yang memesona.
“Saya mulai dari rumah. Dari pemandangan sampah sendiri yang tak kunjung habis,” ucapnya kepada Batam Pos.
Suaranya pelan, tapi penuh daya. Ia bukan lulusan sekolah seni, tak pernah kursus kerajinan, tapi belajar dari ketekunan. Dari rasa tak ingin melihat rumahnya penuh sampah, dan dari mimpi bahwa limbah pun bisa jadi lambang cinta.
Lima gaun daur ulang ia tampilkan hari itu. Tiga gaun lama, dua baru selesai semalam. Gaun-gaun itu bukan hanya pakaian, tapi narasi: bahwa keindahan bisa lahir dari yang dibuang. Bahwa tangan perempuan tak hanya bisa mencuci piring, tapi juga mengubah plastik menjadi puisi visual.
Pernah suatu waktu, ia mendapat pesanan hingga 56 buah bunga plastik. “Kalau banyak, saya minta tolong teman,” katanya, tersenyum.
Produk-produk Tini bahkan pernah menyeberang ke Tanjungpinang dan Jakarta. Tak mahal, dari lima ribu rupiah hingga ratusan ribu. Tapi yang paling berharga, katanya, bukan uangnya. “Yang penting saya tak beli keset lagi,” ucapnya sambil terkekeh.
Warna alami dari daun dan kulit kayu jadi ciri khas ecoprint buatannya. Pewarnaan adalah bagian tersulit, tapi ia menikmatinya. Seperti menikmati hidup: pelan, sabar, dan penuh kejutan.
Di akhir kegiatan, suara petugas terdengar menggema: 685 kilogram sampah terkumpul. Hampir 200 orang turun tangan. Tapi bukan hanya angka yang dicatat hari itu. Ada yang lebih penting dari itu: kesadaran.
Winda Sari Rosadi, Project Executive kegiatan ini, menatap para relawan yang mulai kelelahan. “Harapan saya,” katanya, “kelak bukan lagi pihak luar yang memberi pelatihan di sini. Tapi warga Tanjunguma sendirilah yang mengisi itu semua.”
Dan angin laut pun mengirim kabar ke cakrawala. Bahwa di sudut kota yang sering terlupakan ini, manusia masih bisa berdamai dengan alam. Dengan cinta, dengan kerja, dan dengan secuil harapan dari sampah yang mereka pungut satu per satu. (***)
Reporter: Tia Cahya Nurani
Editor: Alfian Lumban Gaol