Buka konten ini
BATAM (BP) – Meskipun tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menurun menjadi 6,89 persen per Februari 2025, kondisi di Kota Batam justru dinilai berpotensi memburuk. Sejumlah faktor, mulai dari efisiensi industri hingga kebijakan pembatasan kegiatan aparatur sipil negara (ASN), dikhawatirkan mendorong peningkatan angka pengangguran di kota industri tersebut.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto, mengungkapkan bahwa data spesifik mengenai pengangguran di Batam baru akan dikumpulkan melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2025 mendatang. Meski demikian, sejumlah indikator awal mengarah pada kemungkinan memburuknya situasi ketenagakerjaan.
“Saat ini banyak perusahaan industri di Batam menerapkan sikap wait and see, terutama terkait kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat. Kondisi ini menyebabkan penundaan produksi dan perekrutan tenaga kerja baru,” jelas Eko, Senin (19/5).
Selain sektor industri, penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam memberikan dampak signifikan pada sektor pariwisata dan perdagangan. “Sektor-sektor seperti perhotelan, restoran, dan transportasi yang sangat bergantung pergerakan wisatawan kini mulai melemah,” tambahnya.
Eko juga menyebut dampak dari kebijakan pembatasan kegiatan ASN di hotel-hotel yang mulai diberlakukan beberapa waktu terakhir. Menurutnya, kebijakan tersebut memberikan efek domino terhadap ekonomi lokal, khususnya terhadap pelaku usaha jasa dan pekerja informal.
“Pengurangan kegiatan ASN di hotel, berdampak pada perekonomian dan berpotensi menyebabkan peningkatan pengangguran,” ungkapnya.
Sementara itu, secara umum TPT di Provinsi Kepri tercatat menurun sebesar 0,05 persen poin dibandingkan Februari 2024. Namun secara absolut, jumlah pengangguran justru mengalami kenaikan tipis sekitar 440 orang, menjadi 75.210 orang dari total angkatan kerja sebanyak 1.091.750 orang.
Kepala BPS Kepri, Margaretha Ari Anggorowati, menuturkan bahwa sektor industri pengolahan masih menjadi lapangan kerja terbesar di Kepri, diikuti sektor pemerintahan, pendidikan dan kesehatan, serta perdagangan. Namun, ia mengingatkan bahwa dinamika ketenagakerjaan sangat sensitif terhadap perubahan ekonomi global maupun kebijakan domestik. (*)
Reporter : RENGGA YULIANDRA
Editor : RYAN AGUNG