Buka konten ini
SEKUPANG (BP) – Pemerintah Kota (Pemko) Batam tengah menyiapkan Gedung Beringin di Sekupang untuk dialihfungsikan menjadi taman budaya. Rencana ini disampaikan langsung oleh Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, saat membuka gelaran Kenduri Seni Melayu pada Sabtu (17/5) malam lalu.
“Kajian awal untuk mewujudkan rencana tersebut sedang disusun oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar),” ujar Amsakar.
Kepala Disbudpar Batam, Ardiwinata, mengonfirmasi bahwa kajian akademis untuk pengembangan Gedung Beringin sebagai taman budaya telah rampung. Kajian tersebut kini tinggal dilanjutkan ke tahap Detail Engineering Design (DED).
“Role model kita adalah Taman Ismail Marzuki di Jakarta. Gedung Beringin akan dijadikan taman budaya, dan kajian akademisnya sudah selesai,” ujar Ardi, Senin (19/5).
Dalam kajian tersebut, Disbudpar merancang dua panggung: panggung luar ruang (outdoor) dan dalam ruang (indoor). Ini untuk mengakomodasi berbagai bentuk pertunjukan seni yang bisa digelar dalam segala kondisi cuaca.
Soal kondisi fisik bangunan saat ini, Ardi menyebut keputusan antara direhabilitasi atau dibangun ulang akan bergantung pada hasil DED. Namun ia memastikan bahwa aspek legalitas lahan tidak menjadi hambatan, karena statusnya sudah berada di bawah penguasaan Pemko Batam dan diserahkan ke Disbudpar.
“Kita kejar DED-nya dulu, setelah itu baru bisa bicara soal anggaran dan pelaksanaan,” kata Ardi.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi Gedung Beringin saat ini cukup memprihatinkan. Bangunan yang dibangun oleh Otorita Batam pada 1986 itu kini terbengkalai, ditutupi semak belukar, dindingnya menghitam, atap sebagian ambruk, dan tidak ada aktivitas sama sekali. Puing-puing berserakan di lantai, dan suasananya sunyi serta menyisakan kesan angker.
“Dari jauh saja sudah tidak kelihatan seperti gedung. Penuh semak, kusam, dan rusak parah,” keluh Iwan, warga Sekupang.
Julian, warga lainnya, menambahkan bahwa bangunan kosong seperti itu rawan disalahgunakan. Ia berharap pemerintah tidak hanya memperbaiki fisiknya, tapi juga memberikan fungsi baru yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Kalau dijadikan taman budaya, itu lebih bagus. Bisa untuk pertunjukan seni, latihan sanggar, pelatihan UMKM, dan kegiatan komunitas lainnya,” kata Julian.
Gedung Beringin, yang dulunya menjadi pusat kegiatan warga hingga pertemuan resmi pemerintahan pada era Presiden Soeharto, kini digadang-gadang akan kembali hidup sebagai pusat kesenian dan kebudayaan Kota Batam.
Proyek ini telah masuk dalam 15 program prioritas Pemko Batam. Jika terealisasi, taman budaya di Gedung Beringin akan menjadi pusat seni pertama yang representatif dan inklusif di kota ini, serta menjadi wadah utama bagi komunitas seni dan paguyuban budaya yang selama ini belum memiliki ruang tetap. (*)
Reporter : Arjuna – Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK