Buka konten ini
LONDON (BP) – Eropa mengukir babak baru. Mereka menemukan potensi produksi hidrogen hijau terbesar di bawah laut, tepatnya di wilayah Laut Utara (North Sea). Kawasan tersebut dahulu dikenal sebagai ladang minyak dan gas. Kini area itu digadang-gadang menjadi pusat energi terbarukan karena menyimpan potensi 45 ribu ton hidrogen hijau per tahun.
Indian Defence Review menulis kemarin (19/5), laporan ilmiah yang dipublikasikan Science Direct menegaskan bahwa hidrogen hijau merupakan komponen vital dalam evolusi energi melalui metode produksi terbarukan. Hidrogen hijau juga memiliki potensi untuk memperkuat sistem ketahanan energi secara substansial.
Diperlukan teknologi inovatif untuk mengolahnya. Salah satunya sistem windcatcher, yakni instalasi turbin apung berbentuk dinding energi angin yang bisa meningkatkan tangkapan angin secara signifikan. Kombinasi teknologi baru itu dengan turbin yang sudah ada akan memperluas kapasitas listrik guna memproduksi hidrogen.
Diharapkan, teknologi tersebut menghasilkan listrik hingga 300 gigawatt supaya cukup untuk menggerakkan proses pemisahan air menjadi hidrogen dan oksigen (elektrolisis) tanpa menghasilkan emisi karbon dioksida.
Kolabrorasi
Perusahaan energi asal Inggris, Centrica, bersama perusahaan layanan hidrogen asal Prancis, Lhyfe, telah meluncurkan proyek awal produksi hidrogen hijau tersebut. Kolaborasi itu merupakan bagian dari nota kesepahaman kedua perusahaan untuk mengembangkan infrastruktur hidrogen skala komersial yang terintegrasi dengan sumber energi angin lepas pantai.
Proyek ini mendorong transisi energi bersih melalui produksi hidrogen hijau skala besar di lepas pantai. “Elektrolisis lepas pantai yang dipadu dengan penyimpanan hidrogen akan memaksimalkan potensi energi angin laut Inggris,” kata Colin Brown, manajer Lhyfe untuk Inggris dan Irlandia.
Pemerintah Inggris telah menggandakan target produksi hidrogen rendah karbon dari 5 gigawatt menjadi 10 gigawatt pada 2030. Separonya berasal dari hidrogen hijau. ”Hidrogen akan memainkan peran kunci dalam mendekarbonisasi pasokan listrik Inggris pada 2035,” tegas Martin Scargill, direktur pelaksana Centrica Storage.
Meski demikian, berbagai tantangan masih menghadang. Proyek tersebut membutuhkan harmonisasi regulasi lintas negara, pembiayaan awal yang signifikan, serta peningkatan efisiensi teknologi elektrolisis. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO