Buka konten ini
BATAM (BP) – Kota Batam tengah menghadapi penurunan signifikan dalam tingkat hunian hotel dan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Padahal, Batam selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan pariwisata nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tren penurunan dalam sektor pariwisata. Sekretaris Bapenda Batam, M. Aidil Sahalo, mengungkapkan bahwa tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang turun 2,11 persen dari Februari ke Maret 2025.
“Pada Februari 2025, tingkat hunian berada di angka 48,36 persen. Sedangkan pada Maret hanya 46,25 persen,” ujarnya, Jumat (16/5).
Tak hanya TPK, jumlah kunjungan wisman juga terus menurun dalam tiga bulan pertama tahun ini. Pada Februari tercatat 104.684 kunjungan, sementara Maret hanya 100.279 kunjungan, atau turun 4,21 persen.
Aidil menyebut penurunan ini dipengaruhi beberapa faktor, termasuk dampak efisiensi belanja akibat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025. Penurunan jumlah wisman secara otomatis juga berdampak pada tingkat hunian hotel.
Meski sektor pariwisata sedang melemah, Wali Kota Batam Amsakar Achmad menilai bahwa capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) triwulan pertama masih stabil dan berada di jalur yang tepat. Ia menyebut posisi geografis Batam sangat strategis bagi pengembangan pariwisata, karena memiliki konektivitas tinggi dari berbagai wilayah di Indonesia.
“Hampir semuanya terhubung. Dari Papua bisa ke Sulawesi, dari Sulawesi ke Surabaya, dan Surabaya langsung ke Batam. Dari Kalimantan juga bisa, dari Sumatra Utara dan Sumatra Barat pun demikian,” ujar Amsakar, Rabu (14/5).
Menurutnya, aksesibilitas yang baik menjadi fondasi penting dalam mendorong sektor pariwisata. Ia menyebut, dalam beberapa tahun terakhir, Batam konsisten berada di peringkat dua atau tiga secara nasional untuk jumlah kunjungan wisman.
“Tahun lalu saja, ada 1,3 juta wisatawan mancanegara yang masuk ke Batam, dan sekitar 3 juta wisatawan domestik,” katanya.
Lebih lanjut, Amsakar menyoroti struktur PAD Batam yang memperlihatkan kontribusi besar dari sektor pariwisata. Lima pos utama pe-nyumbang PAD yakni Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Penerangan Jalan (PPJ), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), serta Pajak Hotel dan Restoran.
“Pajak hotel dan restoran ini jelas menunjukkan bahwa Batam sangat representatif untuk dikembangkan sebagai daerah pariwisata,” ujarnya.
Meskipun ada keluhan dari pelaku usaha hotel dan restoran, secara keseluruhan pro-yeksi PAD dinilai masih sesuai rencana. Pada triwulan pertama, capaian PAD Batam telah mencapai 32,08 persen dari target.
“Kalau capaian kita sudah 32,08 persen, berarti formulasi kita soal PAD ini sudah on the track. Kita termasuk lima daerah terbaik secara nasional dalam capaian PAD triwulan pertama,” tegasnya.
“Saya maknai ini sebagai, insya Allah, proyeksi kita dari tahun sebelumnya relatif tidak bergeser. Keluhan dari hotel dan restoran perlu pendalaman lebih lanjut,” tutup Amsakar. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : RYAN AGUNG