Buka konten ini
Dadang Iis tak cuma mengirim pesan, tapi juga foto bersama salah seorang tentara yang turut menjadi korban tewas. Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyebut, berdasarkan pengakuan keluarga, para korban sipil memang bekerja di lokasi tersebut.
UCAPAN “Awas Ngabeledug!” atau “Hati-hati meledak!” menjadi kata-kata terakhir Dadang Iis. Kalimat itu ia kirimkan ke grup WhatsApp (WA) kampung beberapa saat sebelum insiden yang turut merenggut nyawa pria 48 tahun itu.
Sehari sebelum menjadi satu dari 13 korban tewas dalam tragedi pemusnahan amunisi tak layak pakai milik TNI Angkatan Darat (AD) di Desa Sagala, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Senin (12/5), Dadang juga memasang status serupa di WhatsApp.
“Cuman bedanya, yang dikirim sebelum kejadian nahas itu ada fotonya,” kata Uus Sutiana, keponakan Dadang, di RSUD Pameungpeuk, Garut, kepada Radar Garut (grup Batam Pos) , Selasa (13/5).
Ada sembilan warga sipil dan empat personel TNI AD yang menjadi korban meninggal dalam kejadian tersebut. Keempat tentara sudah teridentifikasi dan kemarin jenazah mereka telah dikirim ke kampung halaman masing-masing untuk dimakamkan.
Mereka adalah Kolonel Cpl Antonius Hermawan yang menjabat sebagai Kepala Gudang Pusat Munisi III Pusat Peralatan TNI AD, Mayor Cpl Anda Rohanda yang merupakan Kasi Administrasi Pergudangan, serta Kopda Eri Priambodo dan Pratu Aprio Setiawan. Keempatnya bertugas di kesatuan yang sama, yaitu Gudang Pusat Munisi III Pusat Peralatan TNI AD.
Hingga Senin malam, 9 dari 13 korban telah berhasil diidentifikasi: empat tentara tadi dan lima warga sipil. Dadang termasuk salah satunya.
Dalam foto yang diunggah Dadang, terlihat ia berpose bersama seorang anggota TNI AD. Banyak yang menduga bahwa sosok dalam foto tersebut adalah Kolonel Cpl Antonius Hermawan, salah satu dari empat tentara yang meninggal.
“Paman saya itu sosok bersahaja dan pekerja keras demi menghidupi keluarga,” kata Uus.
Ketika mengunjungi para korban di RSUD Pameungpeuk, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan bahwa berdasarkan pengakuan para keluarga, para korban sipil dalam insiden itu memang bekerja di tempat tersebut. Jadi, bukan memulung bekas logam seperti diduga semula.
“Sudah cukup lama, ada yang sudah 10 tahun,” katanya.
Dedi juga menjanjikan bahwa semua anak korban akan ditanggung biaya pendidikannya sampai kuliah. “Santunan untuk per kepala keluarga korban Rp50 juta,” katanya.
Pantauan pada Selasa (13/5) pagi, pada lokasi peledakan yang berada sekitar 500 meter dari jalan raya, sudah terpasang papan peringatan zona berbahaya yang dipasang oleh TNI.
“Dilarang masuk, daerah penghancuran munisi afkir. Gupusmu (Gudang Pusat Amunisi) III.” Demikian bunyi peringatan pada papan berwarna merah yang dilengkapi gambar tengkorak.
Papan peringatan serupa juga ditemukan di beberapa titik dalam radius beberapa kilometer sebelum mencapai lokasi kejadian. Area pemusnahan amunisi ini terletak di tepi pantai, dan untuk mencapainya harus melewati kawasan perkebunan yang luas.
Asep, seorang warga setempat, menuturkan bahwa kegiatan pemusnahan amunisi tidak layak pakai di lokasi tersebut bukanlah yang pertama kali dilakukan. Ia juga menegaskan bahwa lokasi peledakan terbilang cukup jauh dari permukiman warga.
“Yang terdekat (permukiman warga) sekitar 1 kilometer. Tapi, ada aktivitas masyarakat di sana sehari-hari yang berkebun,” jelas Asep, Selasa (13/5).
Dari Jakarta, anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKB Oleh Soleh mendesak TNI melakukan investigasi terhadap peledakan amunisi afkir yang mengorbankan 13 orang tersebut. Ia meminta agar ada pihak yang bertanggung jawab atas kejadian ini.
Legislator asal Dapil Jawa Barat XI itu sangat menyayangkan peristiwa tersebut. Ia tidak mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan ledakan amunisi kadaluarsa itu sampai menimbulkan korban jiwa dari warga sipil maupun TNI.
“Apakah sudah dilakukan sesuai dengan standard operating procedure (SOP) yang telah ditetapkan, atau ada kelalaian yang dilakukan TNI dalam pemusnahan?” ujarnya.
Terpisah, Direktur Eksekutif De Jure Bhatara Ibnu Reza menuturkan bahwa di tengah memanasnya geopolitik dunia, seperti perang Rusia–Ukraina, perang Pakistan–India yang baru terjadi, dan api dalam sekam di Laut Natuna Utara yang bakal digagahi Tiongkok, TNI justru masih berkutat dengan masalah profesionalisme.
“Negara lain berperang dan siap perang, militer negara ini bagaimana?” paparnya.
Ia juga mempertanyakan apakah TNI sudah mempelajari bagaimana pesawat tempur Pakistan buatan Tiongkok, J-10C, menembak jatuh pesawat Rafale buatan Prancis dan Sukhoi-30MK2 milik India. Kini, TNI malah tengah menghadapi insiden pemusnahan amunisi apkir yang menewaskan 13 orang, termasuk sembilan warga sipil.
“Korbannya dari satuan CPL. Ini korps peledak yang jarang menjadi perhatian. Jarang orang mau ke korps ini,” ujarnya. (***)
Laporan: Rizki Peratami-Ilham Wancoko–Folly Akbar
Editor: RYAN AGUNG