Buka konten ini
Program cek kesehatan gratis (CKG) yang menjadi salah satu andalan Presiden Prabowo Subianto sudah berjalan tiga bulan. Selama rentang waktu tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengklaim sudah melayani 5,5 juta warga.
Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat memaparkan kinerja selama tiga bulan ini. ”Kalau di mata saya ini (capaian 5,5 juta orang, red) sudah lumayan,” katanya. Sebab, tahun ini targetnya ada 50 juta orang yang mendapatkan manfaat CKG. Dia menyebut jangkauan dari program ini sudah melebihi program makan bergizi gratis (MBG).
Budi menyatakan bahwa keberhasilan program CKG bergantung pada kepala daerah masing-masing. Karena itu, dia sudah berkomunikasi dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam membantu menyukseskan program CKG.
”Tantangan kedua, dengan adanya CKG ini, masalah (kesehatan) terbuka semua,” bebernya. Dia mencontohkan masalah kesehatan gigi yang sering dijumpai pada balita. Ini terkait dengan minimnya jumlah dokter gigi di puskesmas.
Lalu, pada lansia, hanya 20 persen yang dinyatakan sehat. Banyak yang mengalami hipertensi dan gula darah yang harus diperhatikan. Masalah yang sudah terlihat ini, menurut Budi, harus segera dibereskan.
Lebih lanjut, Budi menjelaskan, pihaknya akan menambah jangkauan CKG. Pada Juli nanti, sasaran CKG ditambah anak usia sekolah. Selama ini CKG hanya dinikmati usia 0–6 tahun dan lebih dari 18 tahun.
Budi menekankan, jika sudah ketahuan ada risiko kesehatan, tata laksana terapinya harus jelas. ”Nah, ini yang sekarang kita sudah kerja samakan dengan seluruh puskesmas. Hasil cek kesehatan gratisnya itu nanti harus ditindaklanjuti oleh puskesmas setempat,” ungkapnya. Harapannya, saat warga yang bersangkutan mengikuti CKG lagi, kondisi kesehatannya jauh lebih baik.
Sementara itu, anggota Komisi IX DPR Edy Wuryanto menyebutkan, CKG tidak terasa di daerah pemilihan (dapil)-nya. ”Kepala dinasnya sampai ngejar-ngejar,” tuturnya. Dapil Edy ada di Jawa Tengah III, yakni Pati, Grobogan, dan Blora.
Edy curiga gegap gempita CKG hanya ramai di kota. Dengan kondisi ini, Edy khawatir pemerintah hanya fokus pada jumlah peserta CKG. Bukan pemerataan program. ”Di lapangan soal alat dan SDM juga perlu dipantau,” tuturnya.
Pada bagian lain, Project Lead for Food Policy Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) Nida Adzilah Auliani mengatakan, kondisi kesehatan seseorang dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya asupan yang dimakan.
CISDI menyebutkan, marak-nya produk pangan tidak sehat menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. ”Sejumlah bukti ilmiah sudah menunjukkan label depan kemasan atau FoPL efektif membantu konsumen untuk menghindari produk makanan tinggi gula, garam, dan lemak yang dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular,” kata Nida.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebenarnya telah memperkenalkan label ”Pilihan Lebih Sehat” sejak 2019. Sayangnya, label ini belum mampu secara langsung menunjukkan kadar gula, garam, dan lemak (GGL) dalam produk makanan. Padahal, kandungan GGL penting diketahui konsumen untuk mengontrol asupan harian dan mengurangi risiko penyakit diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.
Nida mengatakan, salah satu jenis label kemasan yang terbukti efektif berdasarkan sejumlah studi adalah label peringatan depan kemasan. ”Sesuai namanya, label peringatan menyediakan informasi zat gizi yang perlu dibatasi seperti gula, garam, dan lemak secara langsung dengan logo hitam dan bertuliskan ’Tinggi Gula’, ’Tinggi Garam’, atau ’Tinggi Lemak’,” ujarnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG