Buka konten ini
YERUSALEM (BP) – Sayap bersenjata Hamas, Brigade Ezzedine al-Qassam, kemarin (12/5) mengumumkan akan membebaskan Edan Alexander. Edan adalah sandera Amerika Serikat (AS) dan Israel yang telah ditahan di Gaza sejak Oktober 2023. Pembebasan ini terjadi di tengah pembicaraan mengenai kemungkinan gencatan senjata antara Palestina dan Israel.
”Kami telah memutuskan untuk membebaskan tentara Zionis yang memegang kewarganegaraan Amerika Edan Alexander,” kata juru bicara Hamas Abu Obeida melalui Telegram seperti dilansir dari AFP.
AS Berharap Bisa Akhiri Perang
Presiden AS Donald Trump berharap pembebasan sandera itu dapat mengakhiri konflik. Mesir dan Qatar yang menjadi negosiator Israel dengan Palestina menilai bahwa pembebasan sandera oleh Hamas sebagai langkah untuk membuka lagi perundingan.
“Ini adalah itikad baik terhadap AS dan upaya mediator, Qatar dan Mesir, untuk mengakhiri perang yang sangat brutal, mengembalikan semua sandera dan jenazah kepada orang-orang yang mereka cintai,” kata Trump.
Negosiasi Gencatan Senjata
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak gencatan senjata atau pembebasan teroris. Serangan terhadap Gaza akan tetap dilanjutkan. ”Negosiasi untuk pembebasan semua sandera akan berlanjut di bawah tekanan, sementara kami bersiap untuk mengintensifkan pertempuran,” ujar Netanyahu.
Langkah ini datang saat hubungan antara Hamas dan Amerika Serikat semakin baik. Sebelumnya, Hamas mengungkapkan bahwa mereka telah terlibat dalam pembicaraan langsung dengan Washington. Tujuannya, untuk mencapai gencatan senjata.
Di Gaza hingga kini masih terjadi serangan udara Israel. Kemarin malam serangan menewaskan 10 orang yang sedang berlindung di sekolah yang menampung pengungsi. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO