Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Ketegangan perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok mulai mereda, menyusul kesepakatan kedua negara untuk memangkas tarif hingga 115 persen. Momentum ini dinilai penting bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat daya saing dalam rantai pasok global.
”Tekanan harga dari gangguan pasokan dan lonjakan biaya produksi akibat tarif kini mulai berkurang. Ini membuka peluang bagi dunia usaha Indonesia untuk lebih kompetitif di pasar global,” ujar pengamat ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, Selasa (13/5).
Kesepakatan itu juga mencakup penundaan kebijakan tarif selama 90 hari. Menurut Syafruddin, ini menunjukkan bahwa diplomasi masih punya ruang di tengah tekanan ekonomi global. Tiongkok yang semula enggan berdialog pun melunak karena khawatir kehilangan hingga 16 juta pekerjaan akibat mandeknya perdagangan dengan AS.
Presiden AS Donald Trump juga menunjukkan sinyal pelunakan dengan menyebut tarif 80 persen sebagai ”angka masuk akal”, jauh dari sebelumnya yang mencapai 145 persen. Ini mencerminkan bahwa tekanan politik dan volatilitas pasar bisa memaksa kompromi, bahkan pada strategi konfrontatif sekalipun.
”Kalau AS dan Tiongkok saja akhirnya mundur dari perang dagang karena biaya terlalu mahal—pengangguran naik, inflasi melonjak, dan bisnis terpukul—bagaimana dengan Indonesia yang ekonominya jauh lebih kecil?” ujar Syafruddin.
Ia menegaskan bahwa Indonesia tak bisa hanya bergantung pada ekspor. ”Kita butuh pasar domestik yang kuat, industri lokal yang tangguh, dan kebijakan yang mandiri. Jangan tunggu krisis berikutnya baru kita berubah,” katanya.
Menurutnya, perang dagang ini menjadi alarm keras bagi negara-negara berkembang untuk mengkaji ulang model pertumbuhan berbasis ekspor.
”Ketahanan ekonomi harus dibangun lewat diversifikasi, inovasi dalam negeri, dan penguatan pasar lokal.”
Analis pasar modal Hans Kwee sependapat. Ia menyebut kesepakatan AS-Tiongkok setidaknya memecah kebuntuan yang selama ini membebani ekonomi global. ”Ini bisa mencegah AS dari risiko resesi karena stok barang yang mulai habis. Dengan tarif baru, arus barang kembali lancar,” ujarnya.
Hans menyoroti bahwa ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,87 persen pada kuartal I 2025, antara lain akibat menurunnya permintaan dari Tiongkok. Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia juga turun ke level 46,7 pada April, di bawah ambang ekspansi.
Namun, ia mengingatkan bahwa dampak positif pada pasar keuangan domestik mungkin hanya bersifat sementara.
”Sentimen jangka pendek bisa mendorong penguatan IHSG dan rupiah, tapi belum tentu bertahan lama. Kalau kesepakatan dagang terealisasi, dana asing bisa balik lagi ke AS,” jelas dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti itu. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG