Buka konten ini
ISLAMABAD (BP) India dan Pakistan yang berseteru sejak 24 April lalu sepakat untuk melakukan gencatan senjata pada Sabtu (10/5). Meski begitu, baku tembak masih terjadi di wilayah Kashmir yang merupakan perbatasan dua negara dan saling diperebutkan.
Kesepakatan gencatan senjata antara India-Pakistan sebelumnya sempat mendapat apresiasi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Muncul harapan perang rudal dan pesawat tidak berawak yang menewaskan sedikitnya 60 orang da membuat ribuan penduduk mengungsi itu berakhir.
Setelah perundingan panjang yang dimediasi oleh Amerika Serikat, saya dengan senang hati mengumumkan bahwa India dan Pakistan telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata penuh dan segera.”Selamat kepada kedua negara karena telah menggunakan akal sehat dan kecerdasan yang hebat,” tulis Trump di media sosialnya Truth Social.
Seperti dilansir dari AFP, Trump tidak hanya sekali menuliskan apresiasi. Pada hari yang sama, dia menyatakan akan meningkatkan perdagangan dengan kedua negara. Trump menyatakan akan bekerjasama dengan India dan Pakistan untuk mencari jalan tengah konflik di Kashmir.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menambahkan, gencatan senjata terjadi setelah dia dan Wakil Presiden JD Vance bertemu dengan pejabat senior dari kedua negara. “Mereka telah sepakat untuk memulai pembicaraan tentang sejumlah besar isu di lokasi netral,” kata Rubio di akun media sosial X.
Mediasi Hanya Keinginan Sepihak
Mediasi ini diharapkan oleh Pakistan. Namun, tidak demikian dengan India. New Delhi cukup skeptis dengan cara ini. Mantan Menteri Luar Negeri India Harsh Vardhan Shringla menyatakan hal tersebut. “Pakistan dibantu oleh Amerika,” katanya.
Minggu (11/5) pagi, ledakan terjadi di Srinagar, Kashmir. Bahkan, ada baku tembak masih intens di wilayah tersebut. Kedua negara saling tuduh melanggar gencatan senjata tersebut.
Gencatan senjata disusun secara tergesa-gesa dan pada saat ketegangan mencapai titik tertingginya,” tulis analis Asia Selatan Michael Kugelman. Dia menyebut India sebenarnya tidak tertarik dengan dengan kesepakatan itu. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO