Buka konten ini

Peneliti Independen/Masyarakat Sipil
Dalam beberapa tahun belakang, nama Dedi Mulyadi atau yang sering dikenal sebagai KDM menjadi sebuah simbol baru kepemimpinan yang dinilai ideal oleh publik.
Pendekatan grassroots seperti ikut serta langsung dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, turun tangan langsung untuk menyelesaikan masalah rakyat kecil, hingga narasi budaya local yang KDM gaungkan di Tengah aras politik elit yang semakin kuat. Segala hal yang KDM lakukan membuatnya dinilai seolah layak untuk mendapat predikat “Pemimpin Istimewa”.
Hal tersebut diperkuat dengan bagaimana masifnya KDM menggunakan media sosisal yang berdampak kepada kuatnya citra pemimpin sederhan yang merakyat. Namun, apakah yang dilakukan oleh KDM adalah suatu yang benar-benar istimewa?
Fenomena glorifikasi terhadap figure KDM tersebut menunjukan bahwa ada kesalahan cara pandang publik memaknai kepemimpinan. Kedekatan pemimpin dengan rakyat, keterlibatan pemimpin untuk menyelesaikan persoalan rakyat dan pendekatan rendah hati dan membumi seharusnya dimaknai sebagai sebuah standar dasar dalam proses bernegara. Namun hal-hal tersebut kini dianggap istimewa yang langka, sehingga Ketika terdapat seorang pemimpin tampil seharusnya akan terlihat menonjol dan lanyak dipuja.
Bagi Greenleaf, apa yang dilakukan KDM merupakan perwujudan dari servant leadership atau kepemimpinan berbasis moral yang memanusiakan, memberdayakan hubungan, dan memberikan tauladan melalui pelayanan. Namun perlu ditegaskan bahwa ini bukanlah satu bentuk kepahlawanan, melainkan model praktik kepemimpinan yang seharusnya menjadi ciri pelayan masyarakat.
Ketika perilaku normatif glorifikasi, pertanyaannya bukan lagi siapa yang hebat, tetapi seberapa rendah harapan kita terhadap norma kepemimpinan.
Glorifikasi ini justru memperkuat potret buram dari sebuah ekosistem kepemimpinan kita yang sangat buruk. Kondisi nyata memperlihatkan bagaimana pemimpin lebih sibuk untuk membangun legitimasi kekuasaan dan mengukuhkan posisi elitisnya.
Munculnya figur KDM dengan segala tidakannya akan mudah diasosiasikan sebagai pemimpin yang kharismatik di tengah kondisi kepemimpinan mayoritas pemimpin lainnya. Hal ini telah digambarkan Max Webber di kepemimpinan kharismatik lebih sering lahir dari opini publik, dan tidak selalu lahir dari substansi kepemimpinan itu sendiri.
Dalam hal ini, krisis ekspektasi masyarakat terhadap kepemimpinan membuat tindakan biasa menjadi heroik. Jadi, yang kita saksikan bukan sekadar minimnya pemimpin yang melayani, tetapi masyarakat yang mulai melupakan apa yang seharusnya diperjuangkan dan dihadirkan oleh seorang pemimpin publik.
Gaya Kepemimpinan Populis, Media Sosial dan Produksi Citra
Secara tidak langsung KDM menampikan gaya kepemimpinan populis yang khas dan konsisten. Turun langsung kelapangan, bicara langsung dengan rakyat dan konsisten mengangkat kearifan budaya lokal sebagai sebuah narasi kepemimpinan yang dirinya bangun.
KDM kerap kali hadir tanpa dampingan protokoler yang kaku, berbaur dengan rakyat kecil tanpa sekat, serta sering sekali menjadi aktor penyelesaian masalah sehari-hari masyarakat seperti kemiskinan, akses pendidikan, serta konflik sosial masyarakat.
Gaya blusukan ini merupakan pendekatan populis mainstream khas pemimpin-pemimpin daerah yang mencoba untuk menciptakan kedekatan simbolik dan emosional dengan rakyatnya.
Namun pendekatan ini bukan gaya kepemimpinan identik milik KDM. Beberapa kepala daerah lainnya juga pernah menggunakan gaya serupa. Ridwan Kamil, misalnya, dengan gaya visual dan artistiknya, Tri Rismaharini yang terkenal dengan aksi emosionalnya, Ganjar Pranowo dengan kanal digital untuk berinteraksi dengan publik hingga Ahok dengan gaya tegas dalam penyelesaian permasalah sosial masyarakat.
Kesamaan mereka terletak pada kemampuan mereka sebagai kepala daerah untuk menciptakan koneksi terhadap masyarakat yang terasa otentik, membangun citra kepemimpinan yang membumi ditengah kejenuhan gaya kepemimpinan politik yang formal, kaku dan elitis.
Sama seperti figure lainnya, KDM adalah figure pemimpin yang populis. Namun, perbedaanya terdapat dalam konsistensi dalam mengakar pada budaya lokal Sunda, tidak hanya sebagai latar belakang personalnya tapi juga pada kerangka utama kepemimpinananya. KDM tidak sekedar hadir untuk menyelesaikan persoalan, tetapi membawa serta simbol-simbol budaya, bahasa daerah, narasi kearifan lokal, hingga filosofi hidup masyarakat Sunda ke dalam setiap interaksi publiknya. Pendekatan ini menjadikan kepemimpinan KDM terasa tidak hanya bermuatan politis semata, juga muatan kultural dan identifikatif.
Artinya, kehadiran KDM di tengah masyarakat tidak hanya dilihat sebagai seorang pemimpin yang bekerja tapi juga sebagi cermin nilai-nilai mereka sendiri dalam setiap tindakan KDM. Dalam konteks ini populisme KDM adalah populisme yang dibalut dengan narasi kebudayaan sebagai seumber legitimasi sosial. Legitimasi ini diperkuat dengan publikasinya di berbagai platform seperti YouTube, Facebook, dan TikTok.
KDM mendistribusikan aksi-aksi kepemimpinannya secara konsisten dan terkurasi. Video-video dirinya saat menyalurkan bantuan kepada masyarakat miskin, menyampaikan pidato dalam bahasa Sunda yang santun, atau saat mengunjungi desa-desa terpencil, bukan sekadar bukti kerja, tetapi juga tontonan yang emosional dan berkekuatan kultural. Penulis melihatnya setidaknya ada dua efek ganda yang diperoleh KDM. Pertama, KDM berhasil meraih lingkup pengaruh yang luas di Internet, sekaligus memperkuat citra sebagai pemimpin yang tulus dan orisinal.
Meskipun banyak dari tindakan ini, dari perspektif kepemimpinan merupakan tugas utama seorang pemimpin publik. Kedua, KDM melakukan kewjibannya dengan baik, tetapi pada kenyataan bahwa KDM berhasil mengubah apa yang seharusnya biasa sebagai sesuatu yang bermakna dan dirindukan melalui kemasan budaya dan kekuatan media.
Penulis membaca bahwa yang dilakukan oleh KDM dalam mengemas dan mendistribusikan citra kepemimpinannya sangat relevan dengan konsep visual populism yang dikemukakan oleh Benjamin Moffit. Moffitt menjelaskan di era politik digital, pemimpin populis tidak hanya dibangun melalui pidato atau kebijakan tetapi juga melalui presentasi visual yang diatur dengan baik di mana visual menekankan kedekatan dengan rakyat, pemecahan masalah secara langsung, dan keberpihakan pada rakyat kecil.
Taktik ini digunakan KDM melalui visualisasi tindakan empati sosial dengan cara memberi bantuan kepada masyarakat miskin, menerima tamu dengan adat Sunda, hingga menyusuri kampung-kampung dalam balutan pakaian adat. Dalam konteks ini KDM menciptakan semacam politik empati, di mana emosi sangat penting dalam membangun kepercayaan dan memperkuat hubungan psikologis dengan masyarakat.
Melalui media sosial, pekerjaan yang sejatinya merupakan kewajibannya sebagai pemimpin terlihat tampak fenomenal, karena disajikan dengan narasi pelayanan, kesederhanaan, dan kedekatan. Inilah ruang di mana persepsi tentang “keistimewaan” dibentuk dan dikukuhkan, bukan semata oleh substansi kepemimpinan, tetapi oleh efektivitas pencitraan visual yang mampu menjangkau dan menyentuh emosi publik secara luas.
Dengan kata lain, KDM tidak hanya menjelma sebagai pemimpin yang melaksanakan tugas jabatannya dengan sungguh-sungguh, tetapi juga menjadi pemimpin yang tampil dan dirasakan oleh semua orang melalui media. Hal ini merupakan sebuah praktik yang khas dama era mediatized politics dan emotive populism. (*)