Buka konten ini
Serka Untung Avisilia masih menelepon istrinya, Ayu Natalia, satu setengah jam sebelum insiden. Insiden itu memicu keingintahuan Faisol dan Naufal yang berbuntut luka di tangan mereka.
SEMESTINYA dalam beberapa jam kemudian Ayu Natalia bisa menemui sang suami, Serka Untung Avisilia. Sudah 15 bulan belahan jiwanya tersebut bertugas di Papua.
”Jam 20.00 masih kontakan, dia nginfo mau berangkat dari Surabaya ke Jember. Saya jawab iya, Yah, hati-hati sehat, selamat,” papar Ayu tentang kontak telepon dengan sang suami pada Senin (5/5) malam lalu itu sebagaimana dilansir Jawa Pos Radar Kediri (grup Batam Pos) Selasa (6/5) lalu.
Tapi, nasib adalah kesunyian masing-masing. Berawal dari info seorang teman tentang insiden yang terjadi di Km 774-350 A Tol Gempol–Pandaan, Jawa Timur, sekitar satu setengah jam setelah Untung menelepon, Ayu mulai cemas. Apalagi, sang suami tak bisa dikontak lagi.
Dunia terasa benar-benar gelap bagi perempuan 31 tahun itu saat sejumlah kolega senior sang suami di Yonif 509/BY Divisi Infanteri 2 Kostrad, Jember, mendatangi kediamannya. Mereka membawa kabar lelayu (duka) itu.
”Sebelum ada kejadian itu saya sempat tertidur, tapi nggak pulas, langsung terbangun. Entah kenapa saya pengen doain suami,” urai perempuan yang tinggal di Desa Balonggebang, Gondang, Nganjuk, Jawa Timur, itu.
Di sebuah Dusun/Desa Winong, Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, kasa masih membalut tangan Faisol dan anaknya, M. Naufal.
Keduanya memperlihatkannya kepada tamu yang datang ke rumah mereka: Dandim 0819 Pasuruan Letkol Arh Noor Iskak. ”Tiba-tiba ada serpihan berupa material besi kayak mortir mengenai tangan kami berdua sehingga luka robek. Material besinya saat itu terasa panas,” kata Faisol tentang kejadian pada Senin (5/5) malam lalu sebagaimana dilansir Jawa Pos Radar Bromo (grup Batam Pos).
Bapak-anak itu turut menjadi korban meledaknya truk pengangkut bahan peledak dan amunisi milik Yonif 509 di Km 774+350 A Tol Gempol–Pandaan. Faisol menuturkan, awalnya mendengar suara ledakan dari rumahnya yang berjarak sekitar 700 meter saja dari tol.
Sebagaimana para tetangga sedesanya, pria 49 tahun itu juga ikut penasaran. Dia mengajak Naufal menuju tepian jalan tol untuk melihat dari kejauhan kobaran api yang membakar sebuah truk di tol.
Awalnya, Faisol mengira truk itu pengangkut petasan. Hingga kemudian terjadi ledakan lagi dari truk tersebut. Serpihan melukai dua titik di tangan kiri Faisol dan satu titik di tangan kanan Naufal.
Warga lain segera mengamankan pecahan benda tersebut. Malam itu juga, Faisol dan Naufal langsung dibawa ke IGD Puskesmas Gempol untuk mendapatkan perawatan medis.
”Selesai perawatan medis dengan dijahit karena luka robek, saya dan anak langsung balik pulang ke rumah,” ujar pria yang sehari-hari bekerja sebagai sopir di sebuah pabrik itu.
Tapi, kemarin pagi Naufal sempat dibawa kembali ke RS Bhayangkara, Porong, Sidoarjo. Sebab, bocah enam tahun itu mengalami demam dan ada jahitan pada luka di tangannya yang butuh diperbaiki.
”Di rumah sakit anak saya tidak lama. Setelah kondisinya agak membaik, langsung pulang,” kata Suliyah, ibu siswa kelas I SD itu, yang ikut mendampingi sang suami dan anak menerima kedatangan Noor Iskak.
Noor Iskak menyerahkan bingkisan kepada Faisol sebelum beranjak pulang. ”Untuk pengobatan korban luka-luka Pak Faisol dan Ananda Naufal kami perhatikan dan menjadi tanggung jawab TNI,” katanya. (***)
Laporan: NOVANDA NIRWANA-RIZAL F. SYATORI
Editor: RYAN AGUNG