Buka konten ini

Geolog Indonesia, tinggal di Samarinda
IKN dibangun di atas apa? Pertanyaan ini bukan sekadar soal lokasi administratif atau potensi ekonomi. Ini pertanyaan mendasar yang menyentuh jantung dari setiap pembangunan berskala besar: apa yang menopang kota ini secara fisik, secara geologis? Bukan hanya tanah yang tampak di permukaan, tetapi juga batuan yang tersembunyi, patahan-patahan yang membelah bumi, lapisan lempung yang mudah bergerak, air tanah yang tercemar, dan gas yang terperangkap di kedalaman dangkal. Semua itu bukan detail teknis semata—mereka adalah kenyataan dasar yang akan menentukan apakah ibu kota baru ini akan kokoh berdiri, atau perlahan ambruk dari bawah.
Geologi adalah ilmu tentang bumi. Ia tidak hanya bicara tentang batu, tetapi tentang waktu, tekanan, gerakan, dan keseimbangan. Maka, geolog adalah mereka yang membaca bumi—bukan dari permukaannya, tetapi dari ingatan panjang yang terpendam di dalamnya. Dan bumi Kalimantan Timur menyimpan banyak cerita yang harus dibaca hati-hati.
Lokasi Ibu Kota Negara (IKN) berada di wilayah dengan sejumlah patahan yang diduga masih aktif secara tektonik. Ini bukan isu sepele. Jika kita belajar dari Palu—kota yang luluh lantak dalam sekejap pada 2018 akibat patahan aktif Palu-Koro—maka kita paham bahwa membangun kota besar tanpa mengindahkan struktur geologi bukan hanya berisiko, tapi bisa sangat fatal.
Tak hanya itu, topografi di sekitar IKN terdiri dari perbukitan yang curam dan lembah yang dalam. Dalam musim hujan, banyak dari lereng ini rawan longsor. Lapisan bumi di kawasan ini sebagian besar berupa lempung lunak dan batu lempung—jenis yang mudah jenuh air, tidak padat, dan labil. Bila dibebani bangunan berat, lapisan ini akan bergerak dan turun tidak merata, menyebabkan retakan dan kerusakan struktural.
Bukan hanya gerakan bumi yang diam-diam mengancam. Air pun menyimpan tantangan. Sebagian wilayah IKN dan sekitarnya adalah daerah langganan banjir musiman. Genangan air tak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menyulitkan mobilitas dan memicu krisis sanitasi. Sementara itu, kualitas air tanah di banyak lokasi buruk—kaya akan zat terlarut, dan tak layak dikonsumsi tanpa pengolahan mahal. Ini menambah tekanan terhadap kebutuhan air bersih, terutama dalam skala kota besar.
Ada pula masalah yang jarang dibicarakan tetapi sangat penting; gas dangkal (shallow gas). Ini adalah akumulasi gas, biasanya metana, yang terperangkap di bawah permukaan dangkal, terutama di sedimen muda. Jika tidak terdeteksi dan tertangani sejak awal, pengeboran, pemancangan fondasi, atau pekerjaan tanah dalam bisa memicu ledakan atau kebocoran gas berbahaya. Risiko ini nyata, apalagi di wilayah bekas rawa, aluvial, atau deltaik—kondisi yang banyak ditemui di sekitar IKN.
Tentu, ini bukan berarti pembangunan IKN harus dihentikan. Tetapi semua ini menunjukkan satu hal; kita tidak boleh gegabah. Kita harus berhenti memperlakukan bumi sebagai halaman kosong yang bisa dicoret sesuka hati. Sebaliknya, kita harus memperlakukannya sebagai buku sejarah yang harus dibaca sebelum ditulis ulang.
Justru dalam tahap-tahap awal pembangunan inilah, semua pihak—pemerintah, perencana, kontraktor, jurnalis, akademisi, dan masyarakat luas—perlu menajamkan kesadaran kritis. Karena dengan memahami kondisi kebumian secara menyeluruh, kita bisa meminimalkan risiko, menghindari koreksi mahal di masa depan, dan meningkatkan rasio manfaat terhadap biaya dalam jangka panjang.
Karena membangun kota bukan hanya soal ”mau di mana”, tetapi ”di atas apa”.
Dan untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus berani bertanya pada mereka yang benar-benar memahami bumi ini—mereka yang selama ini membaca gerakan diam, mencatat sejarah lisu, dan memahami bahasa bumi; para geolog.
Bumi ini tidak diam. Ia bicara dengan caranya sendiri. Dan dalam bicaranya, keselamatan dan masa depan kita sedang dipertaruhkan. (***)