Buka konten ini

Ratusan murid di SDN Bedono 1, Demak, dan puluhan siswa kelas jauh SD Inpres 238 Bonto Parang, Maros, telah berbilang bulan dan tahun belajar di sekolah yang kondisinya jauh dari layak. Ayam berkeliaran tak masalah, tapi semua kelas harus tergabung dalam satu ruang itu yang merepotkan.
SEMENTARA di Jakarta orang-orang berbusa-busa berbicara soal Makan Bergizi Gratis, bonus demografi, dan Generasi Emas 2045, di tepian Pantai Utara Demak, Jawa Tengah, Aliya hanya berharap hujan tidak turun saat ia bersekolah. Sebab, jika air langit jatuh, sulit baginya untuk berkonsentrasi.
“Semuanya jadi basah,” kata siswi SDN Bedono 1, Sayung, Demak, itu kepada Jawa Pos Radar Semarang (grup Batam Pos), Jumat (2/5).
Sekolah Aliya tak layak disebut sekolah. Bersama ratusan murid lain, dia harus belajar lesehan di kolong sebuah gedung. Beralas sekadarnya di atas tanah, tanpa meja, tanpa kursi.
Ada siswa dari empat kelas yang dalam dua bulan terakhir harus menjalani proses belajar-mengajar di tempat tersebut. Itu terjadi setelah gedung sekolah mereka yang baru dikunci akibat kendala administrasi proyek pembangunan.
Darso dari Komite Sekolah mengatakan bahwa seluruh ruang kelas di gedung baru diduga dikunci oleh pihak kontraktor karena lambatnya proses administrasi antara kontraktor pelaksana pembangunan gedung sekolah dengan pelaksana proyek jalan tol.
“SDN Bedono 1 termasuk area yang terdampak pembangunan Jalan Tol Laut Sayung–Kaligawe atau Demak–Semarang sehingga harus direlokasi dan dibangun gedung baru. Namun, saat gedung baru selesai, para siswa justru tidak bisa menempatinya sebagai tempat belajar,” jelasnya.
Ribuan kilometer dari Bedono, tepatnya di Dusun Bara, Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, bagian lain dari ”bonus demografi” juga bernasib serupa. Puluhan siswa terpaksa belajar di bawah kolong rumah bekas kandang ayam.
Beralaskan tanah, tanpa dinding, dan tanpa sekat antara kelas satu hingga kelas enam. Semua murid dari sekolah yang kini berstatus kelas jauh dari SD Inpres 238 Bonto Parang itu tergabung dalam satu ruang, dengan hanya satu papan tulis. Tiga guru yang tersedia mengajar mereka secara bergantian untuk anak-anak dari berbagai tingkatan.
Adalah Suryadi, seorang pemuda setempat, yang berinisiatif memulai semua itu pada 2018. Jadi, sama sekali bukan proyek pemerintah.
Ia hanya ingin mengubah nasib anak-anak di kampungnya agar tidak tumbuh dalam keadaan buta huruf, seperti kebanyakan orang tua mereka. Ia pun awalnya mengajar sendirian, tanpa digaji, selama lebih dari empat tahun.
“Ada anak-anak yang datang ke sekolah saja saya sudah cukup senang. Bisa mengajarkan mereka membaca dan menulis,” kenang Suryadi.
Pada 2023, sekolah tersebut diakui sebagai kelas jauh dari SD Inpres 238 Bonto Parang. Kini, sudah ada tiga guru tetap yang tinggal di Dusun Bara.
Demak bertetangga dengan Semarang, ibu kota Jawa Tengah. Jika di wilayah yang sedekat itu dengan ibu kota provinsi saja, dan masih di Pulau Jawa, terdapat sekolah seperti SDN Bedono 1, bisa dibayangkan kondisi sekolah di daerah yang jauh lebih pelosok, apalagi di luar Jawa.
Sehari-hari bersekolah di ruang kelas tanpa meja dan kursi, keluhan utama para murid adalah sakit pinggang. Akibatnya, mereka menjadi sulit berkonsentrasi saat belajar.
Karena itu, impian Putri, siswi SDN Bedono 1 lainnya, sangat sederhana: memiliki ruang kelas yang layak. “Kami berharap bisa sekolah dengan kondisi yang baik lagi,” ujarnya.
Di kelas jauh Dusun Bara, yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari sekolah induk, dan 50 kilometer dari ibu kota kabupaten, impian sederhana seperti milik Putri di Bedono lebih sulit lagi untuk diwujudkan. Namun, untungnya, mereka tidak patah semangat.
“Kalau ayam berkeliaran sudah biasa, tapi yang membuat kami terganggu itu karena semua kelas dicampur. Jadi, kami yang kelas enam mau tidak mau menyimak pelajaran anak kelas satu sampai lima. Mereka juga begitu,” ungkap Alfin, siswa kelas 6.
Meski begitu, ia tetap betah dan bersemangat belajar. Cita-citanya pun setinggi langit: menjadi tentara. “Saya ingin menjadi orang pertama di desa saya yang menjadi tentara. Saya ingin membanggakan orang tua,” katanya kepada FAJAR (grup Batam Pos).
Suryadi dan dua guru lainnya tentu senang melihat semangat para murid. Padahal, mereka sendiri menghadapi kesulitan hidup yang tidak ringan. Setiap bulan, ketiga pengajar hanya dibayar Rp600 ribu. Itu pun dibayarkan tiga bulan sekali.
Namun, mereka memilih mengesampingkan itu lebih dahulu. Yang terpenting, ruang kelas yang layak untuk anak-anak. “Sudah ada tenda darurat bantuan pemerintah yang didirikan dan masih kami gunakan. Namun, saat siang hari, suhunya sangat panas, dan ketika hujan datang, tanahnya berubah menjadi lumpur. Jadi, kami tetap memanfaatkan kolong rumah sebagai kelas utama bagi para siswa setiap hari,” kata Suryadi.
Dari Demak dan Maros, satu pertanyaan besar patut diajukan: Apa itu Generasi Emas 2045? (***)
Laporan: WAHIB PRIBADI– ARINI NURUL
Editor: RYAN AGUNG