Buka konten ini
Luis Enrique berhasil melepaskan diri dari bayang-bayang FC Barcelona dalam karier melatihnya di ajang Eropa. Tanpa Barca, Enrique juga bisa kembali mencapai final Liga Champions. Kemarin (8/5), Enrique mengantarkan Paris Saint-Germain (PSG) ke final setelah menyingkirkan Arsenal.
Dalam second leg semifinal di Parc des Princes, Paris, PSG kembali mengalahkan Arsenal 2-1 setelah unggul 1-0 dalam first leg di Stadion Emirates, London (30/4). PSG pun lolos dengan agregat 3-1 dan Lucho, sapaan karib Luis Enrique, kembali ke tanah Jerman.
Final Liga Champions musim ini berlangsung di Allianz Arena, Munchen. PSG menghadapi juara Serie A Inter Milan pada perebutan Si Kuping Besar, sebutan trofi Liga Champions, pada 1 Juni mendatang.
Ketika mencapai final bersama Barca dan memenangi Liga Champions 2015, Lucho meraihnya di Olympiastadion, Berlin. Saat itu Barca mengalahkan juga wakil Serie A, Juventus, dengan skor 3-1.
“Kami sudah memikirkan cara untuk memenangi laga di Munchen. Seperti biasa, aku tidak perlu mengubah apa pun dari tim ini. Hanya membangun mentalitas untuk laga final karena itu bisa jadi pembeda,” tutur Lucho kepada PSG TV.
Mentalitas dibutuhkan Marquinhos dkk karena skuad PSG musim ini memang masih muda. Usia rata-ratanya 23,8 tahun atau paling muda di antara kontestan babak utama (36 klub). Bandingkan dengan usia rata-rata skuad Inter, yakni 29.5 tahun atau paling tua di antara 36 klub.
Menurut Lucho, skuad musim ini sudah lebih berkembang dan matang dibandingkan musim lalu atau tahun pertamanya menangani Les Parisiens, julukan PSG.
”Musim ini, tim ini menunjukkan bahwa wajah ang sesungguhnya,’’ ucap mantan entrenador timnas Spanyol itu.
Laga kemarin jadi laga ke-61 Lucho memimpin klub di Liga Champions. Dari jumlah itu, 33 laga di antaranya dijalani bersama Barca. Unggul 10 laga ketimbang allenatore Inter Simone Inzaghi. Faktor yang disebut bek kanan PSG Achraf Hakimi bisa menguntungkan timnya dalam final nanti.
”Dia (Lucho) melakukan pekerjaan di sini dengan luar biasa. Dia genius dalam taktik dan punya pendekatan ruang ganti yang menyenangkan. Final ini memotivasinya maupun kami semua (pemain PSG),” tutur Hakimi yang pernah membela Inter semusim (2020–2021) sebelum bergabung PSG itu kepada Canal+.
Napaktilas Jalan Les Phoceens
Kontestan final Liga Champions sedekade terakhir didominasi klub Premier League dan LALIGA. Mereka total menyegel 15 dari 20 slot. Sisanya Serie A dan Bundesliga (masing-masing dua slot) dan Ligue 1 (satu slot).
Final musim ini yang mempertemukan wakil Ligue 1 (Paris Saint-Germain) dan Serie A (Inter Milan) pun terasa tidak biasa. Meski, PSG dan Inter pernah sekali lolos sedekade terakhir. Masing-masing pada 2020 dan 2022.
Dalam sejarah final Liga Champions, praktis hanya sekali klub Ligue 1 melawan klub Serie A. Itu pun terjadi pada edisi perdana era Liga Champions (1993) saat Olympique de Marseille (OM) menghadapi AC Milan. OM memenanginya dengan skor 1-0.
Kesuksesan Les Phoceens, julukan OM, itulah yang kali ini ingin dinapaktilasi PSG. Kebetulan, final sama-sama berlangsung di tanah Bavaria. OM melakoninya di Olympiastadion, Munchen, saat itu. Sementara PSG menjalani final di Allianz Arena, Munchen, pada 1 Juni nanti melawan Inter Milan yang notanen klub sekota AC Milan.
Meski begitu, bek kiri PSG Nuno Mendes tidak mengharapkan sisi keberuntungan dan kebetulan untuk memenangi Liga Champions. Dia ingin menuntaskannya di lapangan. “Kami akan mengukir sejarah kami sendiri,” ucap Mendes seperti dilansir dari Maxifoot. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG