Buka konten ini
ANAMBAS (BP) – Kasus dugaan malpraktik yang menimpa warga Desa Ladan, Doni Ardiansyah berakhir damai.
Perdamaian ini terjadi setelah Kepala Puskesmas Palmatak, Yurnalis mengunjungi korban, Rabu, (7/5).
“Sudah selesai, orang Puskesmas sudah datang minta maaf atas masalah ini,” ujar Doni Ardiansyah.
Meski sudah memaafkan perbuatan malpraktik ini, Doni menyayangkan jika oknum terduga pelaku malpraktik tidak datang menemuinya. Malahan melalui Kepala Puskesmas saja.
“Sudah tidak apa-apa, mata saya sudah sehat juga. Semoga kedepan tidak ada lagi korban lain. Cukup saya saja yang menjadi korban,” tutur Doni.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Palmatak, Yurnalis membenarkan jika oknum nakes yang berprofesi sebagai perawat itu telah melakukan malpraktik.
“Begitu dapat laporan kita kroscek memang benar. Yang bersangkutan mengakui perbuatannya. Oknumnya perawat perempuan,” ujar Yurnalis sembari enggan membeberkan identitas oknum perawat pelaku malpraktik.
Yurnalis menjelaskan perbuatan oknum perawat ini terjadi karena panik melihat pasien yang datang ke Puskesmas dalam keadaan parah. Yang mana bola mata sebelah kanan pasien habis terkena serpihan batu.
“Karena panik, jadi salah komunikasi saja dengan korban. Apalagi nama obatnya sama, Cholrampenicol. Hanya beda bungkusnya saja. Jadi malah kasih obat untuk telinga bukan mata. Karena panik,” jelas Yurnalis.
Terhadap pelaku Malpraktik ini, pihak Puskesmas telah memberikan sanksi serta
pembinaan dengan tujuan perilakunya bisa berubah agar tidak memakan korban lain.
“Saya sebagai pimpinan menyampaikan minta maaf kepada masyarakat atas kejadian ini. Ini sebagai bentuk evaluasi kami dalam memberikan pelayanan kepada pasien,” kata Yurnalis.
Seperti diketahui, kasus dugaan malpraktik ini terjadi pada bulan lalu yang mana korban, Doni Ardiansyah mengalami kecelakaan kerja, bola mata terkena serpihan batu.
Kemudian, korban berobat ke Puskesmas Palmatak. Setelah ditangani perawat, Doni lalu diberi dua jenis obat, paracetamol dan obat tetes.
Sesampai dirumah, Doni lantas meneteskan obat tersebut ke mata. Bukannya malah sembuh, mata korban makin parah. Ternyata, obat yang diberikan perawat salah, seharusnya obat tetes mata namun yang dikasih obat tetes telinga. (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GALIH ADI SAPUTRO