Buka konten ini

Setelah mendirikan Daddies Arena yang memadukan badminton, fitnes, dengan tempat nongkrong, Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan berencana bikin akademi. Bisa jadi teladan para atlet lain agar menyiapkan bisnis sebelum pensiun.
MOHAMMAD Ahsan dan Hendra Setiawan sama-sama merasa beruntung bisa bertemu Jody Brotoseno. Sebab, dari Jody, dua mantan ganda putra andalan Indonesia itu jadi paham bagaimana berinvestasi dan berbisnis.
”Kami ini kan dari kecil tahunya badminton saja. Dari Mas Jody kami banyak belajar,” kata Hendra.
Salah satu wujud kolaborasi The Daddies, julukan Ahsan/Hendra semasa masih aktif berpasangan, dengan pemilik Waroeng Steak & Shake itu adalah Daddies Arena yang soft launching-nya berlangsung, Rabu (30/4) lalu. Fasilitas bulu tangkis, fitnes, dan tempat nongkrong seluas 5.000 meter persegi tersebut berada di kawasan Rawa Buntu, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten.
Di Daddies Arena terdapat delapan lapangan bulu tangkis, gym, sauna, dan Waroeng Steak. Untuk badminton sudah bisa digunakan per 1 Mei 2025.
Lalu, gym sebulan ke depan dan Waroeng Steak siap enam bulan kemudian.
Jody menambahkan, sejak awal kenal, lalu kerap ngobrol dan berdiskusi dengan Ahsan/Hendra, mereka sama-sama mengidamkan bisa membuat satu bisnis bersama agar dapat berbarengan saling dukung.
”Jadi atlet itu harus bisnis juga. Uangnya jangan dipakai foya-foya,” ucapnya.
The Daddies pernah tiga kali juara dunia dan menjadi ganda putra nomor satu dunia. Perebut emas ganda putra Asian Games 2014 itu pensiun dari arena bulu tangkis pada 23 Januari 2025 di Indonesia Masters.
Lokasi Daddies Arena bermula dari Ahsan bersama istri yang survei tempat. Kebetulan tak jauh dari mereka tinggal ada tanah kosong luas. Ahsan lantas mengontak Hendra dan Jody.
Hendra menambahkan, sebelum membangun Daddies Arena sempat survei ke beberapa tempat serupa yang sudah dimiliki para mantan kolega mereka di bulu tangkis. Masih di Serpong, misalnya, ada Candra Wijaya International Badminton Centre.
Candra merupakan senior Ahsan/Hendra dan peraih emas ganda putra di Olimpiade Sydney 2000.
”Kami survei-survei, mampir ke sana-sini,” kata Hendra.
Bagi Jody, apa yang dilakukan Ahsan/Hendra bisa menjadi teladan bagi para atlet lain yang lebih muda. Harapannya, mereka yang saat ini masih aktif dan berjaya bisa memiliki pandangan jauh ke depan.
Itu pula yang ditanamkan kepada para atlet yang dia dukung seperti Sabar Karyaman Gutama dan Muhammad Reza Pahlevi Isfahani serta Christian Adinata. Mereka diajak berbisnis.
”Kalau setelah pensiun belum di-prepare itu berat banget,” kata Jody.
Sebelum pensiun, Ahsan/Hendra juga sudah memiliki bisnis. Hendra, misalnya, mengelola kos-kosan, tempat biliar, hingga rumah makan. Ahsan membantu istri membuat toko kue di pasar modern yang berada di kawasan Bumi Serpong Damai.
Ahsan, Hendra, dan Jody kini berfokus membangun brand Daddies Arena. Salah satunya berencana membuat akademi yang diperuntukkan pengusaha hingga atlet luar negeri yang mau meningkatkan skill.
”Jadi, di belakang ada tanah kosong, nanti kami bangun asrama di sini juga buat atlet luar negeri. Nanti Koh Hendra dan Babah Ahsan bisa bantu buat di akademi juga. Ya semoga brand Daddies Arena ini bisa kami kembangkan, bahkan sampai ke luar negeri,” harapnya.
Selain berbisnis, Hendra sekarang juga sudah melatih ganda putra non-Pelatnas Cipayung. Dia mendampingi Sabar/Reza saat menembus semifinal All England dan perempat final Swiss Terbuka tahun ini.
Tapi, Ahsan mengaku masih mau menikmati masa-masa setelah pensiun dengan keluarga dan berbisnis.
”Kalau Koh Hendra kan gak bisa tuh, langsung pegel-pegel kalau tidak melatih hahaha,” katanya. (***)
Laporan: RIZKY AHMAD FAUZI
Editor: RYAN AGUNG