Buka konten ini
SYDNEY (BP) – Lima perusahaan sumber daya alam terbesar di Australia bertanggung jawab atas kerugian ekonomi akibat perubahan iklim. Nilai kerugian berdasar hasil penelitian tersebut mencapai USD 600 miliar (setara Rp9.827 triliun dengan kurs 16.380 per USD).
Penelitian itu dijalankan Christopher Callahan dari Stanford University dan Justin Mankin dari Dartmouth College. Mereka menganalisis data emisi selama tiga dekade terakhir, 1991-2020, lewat pendekatan ilmiah baru. Yakni, mengaitkan langsung emisi gas rumah kaca dari perusahaan dengan dampak iklim ekstrem, khususnya gelombang panas.
Fokus awal penelitian ditujukan pada lima perusahaan raksasa dunia seperti BP, Gazprom, Saudi Aramco, ExxonMobil, dan Chevron. Perusahaan-perusahaan tersebut terbukti menyumbang kerugian triliunan dolar USD akibat suhu ekstrem tahunan.
Mereka kemudian memperluas penelitian hingga mencakup lima perusahaan energi Australia, yaitu BHP, Rio Tinto, Santos, Whitehaven Coal, dan Woodside Energy. Total nilai dampak iklim dari kelimanya lebih dari AUD 929,47 miliar (setara Rp9.827 triliun).
“Analisis kami secara eksplisit memperhitungkan emisi yang telah terjadi dan mengaitkannya dengan perubahan historis dalam gelombang panas ekstrem. Bahkan, dari data historis saja, kami mendapati angka kerugian hingga triliunan dolar AS ketika diakumulasi secara global,” ujar Callahan sebagaimana dilansir The Guardian kemarin.
Namun, upaya pendekatan hukum terhadap perusahaan-perusahaan itu masih terhambat. Di Australia, banyak pengadilan yang belum mengakui hubungan kausal langsung antara emisi dari satu perusahaan dan kerusakan iklim tertentu. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO