Buka konten ini
NONGSA (BP) – Kepolisian Daerah (Polda) Kepulauan Riau (Kepri) menyegel nozel bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kabil, Kecamatan Nongsa, Batam. Penyegelan ini merupakan buntut dari dugaan penyelewengan penyaluran BBM bersubsidi yang diduga tidak tepat sasaran.
Sebelumnya, Polda Kepri telah menetapkan satu orang tersangka dalam kasus ini, yakni seorang operator SPBU. Saat ini, penyidik masih melakukan pengembangan lebih lanjut.
Kepala Subdirektorat IV Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kepri, AKBP Zamrul Aini, menyampaikan, penyegelan telah dilakukan sejak Sabtu (3/5) lalu.
“Ya, kami melakukan penyegelan terhadap nozel Pertalite di SPBU Kabil,” ujar Zamrul, Senin (5/5).
Menurutnya, hanya nozel Pertalite yang disegel. Sementara itu, nozel untuk jenis BBM lainnya tetap beroperasi seperti biasa. “Kami masih melakukan pengembangan lebih lanjut. Untuk layanan BBM lainnya tetap berjalan normal,” tambahnya.
Selain langkah hukum dari kepolisian, Pertamina Patra Niaga selaku distributor BBM juga menjatuhkan sanksi administratif terhadap SPBU Kabil. Sanksi tersebut berupa penghentian sementara pasokan Pertalite selama tujuh hari, terhitung sejak 29 April hingga 5 Mei 2025.
Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Susanto August Satria, membenarkan bahwa distribusi Pertalite ke SPBU Kabil memang belum dilanjutkan.
“Untuk Pertalite, belum didistribusikan,” ujar Satria, Senin (5/5).
Terkait penyegelan oleh pihak kepolisian, Satria mengaku belum menerima informasi secara rinci. Ia menegaskan bahwa tindak lanjut distribusi Pertalite ke SPBU tersebut akan bergantung pada hasil evaluasi dan perkembangan ke depan.
“Besok (hari ini) atau lusa (besok) akan dilihat lagi bagaimana perkembangannya. Kita tunggu saja,” katanya.
Pantauan Batam Pos di lokasi menunjukkan SPBU Kabil, yang merupakan satu-satunya SPBU di wilayah tersebut, tampak sepi dari antrean kendaraan, tidak seperti biasanya. Kondisi ini dikeluhkan warga sekitar yang kesulitan memperoleh BBM bersubsidi.
“Saya biasanya isi Pertalite di sini. Kalau harus ke SPBU lain, jaraknya lumayan jauh,” keluh Arif, seorang pengendara motor yang ditemui di sekitar SPBU.
Meski demikian, warga tetap mendukung langkah tegas aparat kepolisian dan Pertamina dalam menindak dugaan penyelewengan distribusi subsidi. Mereka berharap pelayanan BBM dapat kembali normal, namun dengan pengawasan yang lebih ketat.
“Ya, pastinya kami mendukung. Tapi kalau bisa, jangan hanya dihentikan, beri juga denda sebagai efek jera,” tegas Arif. (***)
Reporter : Yashinta
Editor : RATNA IRTATIK