Buka konten ini
”Sejak kecil saya memang menyukai lukisan, dan sejak SMA sudah menjadi kolektor. Lukisan yang saya sukai adalah yang naturalis dan realis, karena indah untuk dinikmati. Tapi jangan tanya berapa koleksi saya, ya.”
Siti Hediati Hariyadi, mantan istri Presiden Prabowo Subianto, Tiras, September 1996
SECARA umum, ke mana arah kebudayaan kita hingga satu dekade ke depan? Jawabannya mudah saja: lihat siapa agensi dan kenali di mana selera utama kaum yang memimpin dan mengatur (politik anggaran) kebudayaan.
Duet kepemimpinan Fadli Zon (menteri kebudayaan) dan Hashim Djojohadikusumo (ketua Dewan Penyantun Museum dan Cagar Budaya) mengindikasikan ke arah kebudayaan (kaum) kolektor.
Kebudayaan kaum kolektor atau sebut saja kebudayaan kolektor merujuk pada para pengumpul benda-benda masa lalu. Mereka bukan sekadar mengumpulkan dengan motif semata lantaran kecintaan pada benda itu sendiri, melainkan karena tahu nilai yang terkandung dalam benda tersebut. Nilai itu bisa berupa harga maupun posisinya dalam lanskap narasi kebudayaan.
Museum adalah simbol utama dalam kebudayaan kolektor. Safari kali pertama menteri kebudayaan dengan mengunjungi museum menjadi peluit dimulainya kebudayaan kolektor.
Bahkan, setelah membuka perhelatan #SeabadPram di Blora, Menteri Fadli bergeser menyambangi salah satu museum purba paling monumental di Asia di Sragen, Museum Sangiran.
Di museumlah, koleksi (benda) kebudayaan terjaga. Terjaga nilai historisnya, terjaga nilai edukasinya, terjaga nilai ekonominya. Di museum pulalah sebuah negara memasrahkan keamanan tertinggi dari benda yang bernilai tinggi itu.
Peradaban bangsa, dalam kebudayaan kolektor, sekali lagi, ada di museum. Hidup dan berjalan dari satu pintu museum ke pintu museum lainnya adalah jejak kita menghikmati apa yang disebut dengan kebudayaan kolektor.
Museum itu adalah ruang. Dan, hanya museum yang dikelola negara dengan fasilitas (dana, daya, aman) yang maksimum yang biasanya bertahan dari masa ke masa.
Berbeda sama sekali dengan institusi swasta maupun pribadi yang memang berangkat dari hasrat individual. Mungkin bisa diwariskan dalam keluarga, tetapi biasanya tak bertahan lama dengan berbagai alasan.
Kegairahan
Tetapi, justru keterlibatan dari institusi swasta dan pribadi inilah yang membuat kebudayaan kolektor hidup dan berdegup.
Tanyalah konglo Hashim dan Menteri Fadli, bagaimana menantangnya, bagaimana bergemuruhnya hasrat memburu sebuah benda yang disukai, baik itu buku, keris, kaset, kain, maupun benda purbakala.
Tanyalah Joseph Solaiman atau akrab disapa Om Jo. Kolektor lukisan sebelum nama Hong Djin masyhur ini mendapatkan julukan ”Pak Katrol” karena jasanya menaikkan harga-harga lukisan Sudjojono maupun Affandi yang sebelumnya sudah dikerek Bung Karno lewat politik patronase. Paus kolektor ini pula yang membuat Kemang, Jakarta, menjadi lain narasinya lantaran kehadiran Galeri Santi yang kerap menyelenggarakan pameran koleksi dan berjejaring dengan para kolektor lukisan di planet bumi ini.
Atau, dalam dunia koleksi buku tua, kita mesti menyebut individu dari Bandung bernama Harry Haryoto Kunto. Entah bagaimana cerita sarjana planologi ITB mengoleksi semua buku tua ihwal Bandung yang kemudian sebuah predikat melekat pada dirinya: kuncen Bandung. Lebih kurang ada 30 ribu buku koleksi Kang Harry yang didapatkan dari para pedagang bekas di Cikapundung. Umumnya, koleksi itu soal Bandung.
Antara Bung Karno dan Adam Malik siapa penyandang kolektor benda seni terbesar? Dalam dunia kolektor, Adam Malik disebut-sebut terbesar. Selain lukisan, keramik, ikon, diplomat dan bekas wakil presiden ini juga menyimpan benda emas, patung perunggu yang berusia tua. Jade dan jenis-jenis batuan dari Dinasti Ming hingga cula badak dan gesper ada dalam katalognya. Keris, rencong, kujang, mandau tak luput.
Dan, dari koleksi keramik dari masa ke masa, misalnya, bisa mengayakan koleksi museum keramik di Jakarta. Ada sidik jari Adam di rumah keramik ibu kota itu.
Cerita kolektor individual ini, jika dihubungkan seluruhnya, bisa menjadi daftar peserta kongres kebudayaan kolektor. Apa saja ada. Dari batik hingga keris. Dari benda elektronik hingga pernak-pernik tokoh kartun Jepang seperti yang dilakukan Harry de Fretes atau lebih dikenal dengan Boim.
Dunia otomotif malah lebih sesak dan kaya lagi. Dari kolektor Harley-Davidson semacam David Sunar Handoko hingga mobil-mobil mainan dari masa ke masa.
Di tumbuhan ada penggilanya. Di dunia ikan ada penggilanya. Di mata uang kuno ada pemegangnya. Di filateli dan beragam dunia kertas tua ada komunitasnya. Semua benda yang barangkali tak pernah terpikirkan punya pemburunya sendiri, pemujanya sendiri, penjaganya sendiri.
Spektrum Luas
Spektrum kebudayaan kolektor tidak sekadar berkisah tentang para penyimpan dengan segala cinta dan sakitnya. Juga, tentang keserakahan dan kejahatan yang melingkupinya.
Berita pemalsuan benda purbakala dan barang antik, kabar pencurian di museum sana dan museum sini, siar hilang dan terbunuhnya si anu dan si ani, gosip penyelundupan di teluk T dan di perairan P menjadi kertas litmus dari kebudayaan kolektor.
Darah dan uang, sebagaimana seks dan kekerasan, berkelindan dalam kebudayaan kolektor itu. Sebab, dalam hasrat dan kegilaan pada peradaban masa dan pada benda-benda berusia purba itu ada skema kriminalitas yang mengikutinya.
Umumnya, motif utama dari kriminalitas itu adalah persaingan koleksi antarkolektor atau perebutan kuasa jaringan ekonomi.
Betapa tidak, ada operasi nilai ekonomi tingkat tinggi yang hidup dan menggeliat di sana. Balai lelang menjadi seperti bank sentral di mana katalog diperbarui, di mana harga dikatrol, di mana informasi penting dilepas dan dijaga para kolektor.
Sebagaimana bank sentral, balai lelang adalah jiwa ekonomi dari kebudayaan kolektor itu. Di sanalah, semuanya berkumpul. Di sanalah, segala strategi dirancang. Di sanalah, para kepala gangster kebudayaan kolektor saling adu keutamaan. Di sana, betapa sulit mengenali mana si pengumpul berhati mulia dan mana si pengumpul berzirah durjana.
Dari balai lelang itu pula, rantai dari kebudayaan kolektor itu bisa dihitung. Dari setiap rantai, dari hilir ke hulu, ada sejumlah ekonomi keluarga yang bergantung.
Harta Karun
Kita ingin melihat kebudayaan seperti ini dalam sepuluh tahun yang bakal diorkestrasi duet Menteri Fadli dan Penyantun Hashim.
Pengalaman kedua sosok ini, terutama sebagai kolektor individual yang teruji stamina ekonomi dan hasratnya dalam ”kebudayaan berburu dan mengumpulkan”, bisa menjadi semangat baru menghidupkan tradisi tua dalam narasi kebudayaan ini.
Atas nama bangsa, rakyat menitip harapan besar. Dengan pengalaman, jaringan, bekingan, uang, dan kini penguasaan semua kunci museum, duet Menteri Fadli dan Penyantun Hashim di satu sisi diharapkan bisa menjalankan misi sebagai bayangkara penyelamat dan penjamin koleksi budaya Indonesia dari keserakahan manusia ”kolektor pedagang”, sementara di sisi lain mampu menghidupkan lentera kegairahan pada segala hal yang berbau treasure.
Bukankah kita sangat akrab dengan dongeng harta karun yang salah satu infrastruktur ekonominya didirikan untuk kali pertama oleh Presiden Prabowo Subianto?
Bank emas atau bullion service, ya, rumah harta karun dengan kasta tertinggi dari seluruh benda koleksi dalam kebudayaan kolektor. Itu. (***)
*MUHIDIN M. DAHLAN,
Dokumentator partikelir Warung Arsip; tinggal di DIJ
Karya : MUHIDIN M. DAHLAN
Editor : MUHAMMAD NUR